Polri Klaim Gas Air Mata Kadaluwarsa di Kanjuruhan Tidak Efektif

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Polri mengakui bahwa anggota mereka telah membawa gas air mata yang sudah kedaluwarsa saat proses pengamanan di stadion kanjuruhan yang berakhir tragis.

Kadiv Humas Mabes Irjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, justru dengan kedaluwarsnya gas air mata tersebut menurunkan tingkat efektiftasnya untuk membubarkan massa.

“Saya mengutip apa yang disampaikan Doktor Masayu, di dalam gas air mata memang ada kedaluwarsanya, ada expired-nya. Ditekankan, harus mampu membedakan, ini kimia, beda dengan makanan. Kalau makanan ketika dia kedaluwarsa, maka di situ ada jamur, ada bakteri, yang bisa mengganggu kesehatan,” kata Dedi dalam keterangan yang diterima Holopis.com, Senin (10/10).

“Kebalikannya, dengan zat kimia atau gas air mata ini, ketika dia expired justru kadar kimianya itu berkurang. Sama dengan efektivitasnya gas air mata ini, ketika ditembakkan, dia tidak bisa lebih efektif lagi,” sambungnya.

Dedi pun kemudian menjelaskan, untuk gas air mata sendiri mempunyai tiga klasifikasi sesuai peruntukannya masing-masing.

“Yang pertama berupa smoke, ini hanya ledakan dan berisi asap putih, kemudian yang kedua ini yang sifatnya sedang, jadi untuk klaster yang dalam jumlah kecil menggunakan gas air mata yang tingkatannya sedang, dan yang merah ini untuk mengurai massa dalam jumlah besar,” jelasnya.

- Advertisement -

Dengan kasus gas kedaluwarsa tersebut, Dedi beralasan bahwa partikel dalam gas air mata itu tidak bakalan efektif dan tidak akan menbuat terasa perih di mata.

“Jadi kalau sudah expired justru kadarnya dia berkurang secara kimia, kemudian kemampuan gas air mata juga akan menurun,” klaimnya.

Sementara itum, mengenai tudingan penyebab gas air mata jadi faktor meninggalnya ratusan orang meninggal, Dedi berdalih itu merupakan hak paramedis untuk menjawabnya.

“Nanti silakan konfirmasi ke Direktur RS Saiful Anwar. Dari penjelasan para ahli, spesialis yang menangani korban yang meninggal dunia maupun korban-korban yang luka, dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit hati, dan juga spesialis penyakit mata menyebutkan tidak satu pun yang menyebutkan penyebab kematian adalah gas air mata,” tukasnya.

“Tapi penyebab kematian adalah kekurangan oksigen. Terjadi berdesak-desakan, kemudian terinjak-injak, bertumpuk-tumpukan yang mengakibatkan kekurangan oksigen pada Pintu 13, 11, 14, 3 (Stadion Kanjuruhan),” tambahnya.

Dedi sebelumnya menerangkan, gas air mata, termasuk yang digunakan anggotanya dalam Tragedi Kanjuruhan, tidak mematikan. Polri menjelaskan pendapat itu dikeluarkan oleh pakar-pakar racun dan gas air mata.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Ronald Steven
Ronald Steven
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU