Bukan cuma rumah yang dibungkus plastik.
Warga juga terlihat berusaha menutup jalur masuk udara agar abu tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
Salah satu foto menunjukkan ventilasi rumah ditutup menggunakan koran dan selotip.
“Antisipasi darurat mencegah debu vulkanik masuk rumah. Koran bekas adalah kunci,” tulis netizen lainnya.
Di balik aksi yang mengundang tawa itu, abu vulkanik sebenarnya perlu diwaspadai.
Material tersebut dapat membawa partikel batuan sangat halus yang berpotensi mengganggu saluran pernapasan.
Abu yang mengenai mata juga dapat menyebabkan perih, kemerahan hingga iritasi.
Karena itu, warga dianjurkan mengurangi paparan langsung dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
Pembersihan abu juga perlu dilakukan secara hati-hati agar partikel tidak kembali beterbangan dan justru meningkatkan paparan.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau turut berdampak pada aktivitas masyarakat.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang terdampak karena abu vulkanik di udara dapat mengganggu jarak pandang dan keselamatan operasional pesawat.
Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat mengalami penutupan sementara.
Sejumlah sekolah di Jakarta dan Tangerang juga menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).



