JAKARTA – Di tengah keriuhan dunia modern yang serba cepat, di pedalaman Sulawesi Barat, waktu seolah berhenti. Di sana, para perempuan Mandar dengan sabar menenun sebuah kain yang bukan sekadar tekstil, melainkan sebuah narasi sakral Tenun Sekomandi. Kain ini bukan hanya diwarnai oleh benang, tetapi juga oleh mitos, kepercayaan, dan warisan leluhur yang tak terukur.
Tenun Sekomandi adalah sebuah mahakarya kuno yang diyakini sebagai warisan dari Tomakayyang, para manusia dari langit yang turun ke bumi. Proses pembuatannya adalah sebuah meditasi panjang. Benang katun dipintal secara manual, kemudian dicelupkan ke pewarna alami dari akar, daun, dan getah pohon yang diambil dari hutan sekitar.
Motif-motifnya yang rumit, seperti Patommo atau Ulle (manusia dan naga), bukan sekadar hiasan, melainkan simbol-simbol kosmologi yang merepresentasikan hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Setiap motif adalah doa, setiap ikatan benang adalah ritual.
Pembuatan satu helai Tenun Sekomandi bisa memakan waktu hingga satu tahun, bahkan lebih. Proses mem-patimmo (mengikat benang) dan me-tettang (menenun) dilakukan dengan penuh ketenangan, menuntut konsentrasi tinggi dan kesabaran tanpa batas.
Hasilnya adalah kain yang memiliki dua sisi, di mana setiap motifnya sempurna dan tidak ada benang yang terputus. Inilah yang membuat Tenun Sekomandi berbeda; ia adalah cerminan dari ketekunan, dedikasi, dan penghargaan terhadap waktu itu sendiri.
Meskipun keindahan dan nilai luhurnya tak terbantahkan, keberadaan Tenun Sekomandi kini terancam. Jumlah penenunnya semakin berkurang, dan pengetahuan tentang proses sakral ini hanya diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi. Setiap helai kain yang berhasil dibuat adalah kemenangan melawan arus zaman.
Lebih dari sekadar pakaian, Tenun Sekomandi adalah artefak hidup yang mengajak kita untuk merenung: bahwa di balik keindahan visual, ada kisah suci yang tak terucapkan, ada ketenangan yang langka, dan ada warisan yang menunggu untuk diselamatkan.



