JAKARTA – Presiden Haidar Alwi Care sekaligus pendiri Haidar Alwi Institute, Haidar Alwi menilai kritik majalah The Economist terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto belum sepenuhnya memahami strategi besar yang sedang dibangun Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
Pernyataan itu disampaikan Haidar Alwi merespons artikel The Economist berjudul Indonesia’s President is Jeopardising the Economy and Democracy yang terbit pada 14 Mei 2026.
Menurut Haidar, kritik tersebut memang patut dihormati karena didasarkan pada sejumlah indikator ekonomi nyata seperti defisit APBN 2025 sebesar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto, pelemahan nilai tukar rupiah hingga kisaran Rp17.500 per dolar AS, serta besarnya anggaran program makan bergizi gratis.
Namun ia menilai kesimpulan bahwa Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi merupakan cara pandang yang terlalu pendek dan belum menangkap perubahan besar yang sedang dirancang pemerintah.
“Bangsa besar tidak mengukur masa depannya hanya dari volatilitas kuartalan, tetapi dari kemampuan pemimpinnya mengubah tantangan menjadi fondasi sejarah,” kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Haidar menjelaskan bahwa Presiden Prabowo saat ini tidak sedang menjalankan kebijakan populis biasa, melainkan strategi besar pembangunan nasional yang ia sebut sebagai Civilizational Statecraft.
Konsep tersebut menurutnya merupakan seni kepemimpinan yang mengarahkan kekuatan fiskal, keberanian politik, dan kebijakan publik untuk membangun fondasi peradaban bangsa.
Ia menyebut salah satu bentuk nyata strategi itu adalah program makan bergizi gratis yang dipandang sebagai investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Presiden Prabowo sedang menjalankan Fiscal Civilization Engineering, yaitu menggunakan APBN untuk membangun Human Capital Sovereignty agar Indonesia tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi berdiri sebagai kekuatan peradaban yang disegani dunia,” ujarnya.
Menurut Haidar, anggaran negara saat ini tidak boleh hanya dilihat sebagai beban fiskal jangka pendek, melainkan sebagai investasi lintas generasi untuk membangun kualitas manusia Indonesia.
“Apa yang tampak sebagai biaya hari ini sesungguhnya adalah intergenerational capital formation, yakni penanaman modal manusia lintas generasi yang akan melahirkan abad baru Indonesia,” katanya.
Haidar juga menilai The Economist terlalu fokus membaca risiko fiskal tanpa memahami dinamika global yang sedang dihadapi banyak negara berkembang.
Ia menyebut dunia saat ini tengah berada dalam turbulensi geopolitik akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, konflik energi di Timur Tengah, tingginya suku bunga Federal Reserve, hingga perlambatan ekonomi global.
Karena itu, menurutnya pelemahan rupiah dan gejolak ekonomi tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat dari satu kebijakan nasional.
“Analisis yang paling cerdas bukanlah analisis yang hanya menghitung biaya, tetapi analisis yang mampu membedakan antara fluktuasi dan transformasi,” ucapnya.
“The Economist membaca risiko, tetapi Presiden Prabowo sedang membaca horizon sejarah,” sambung Haidar.
Lebih lanjut, Haidar menegaskan bahwa program makan bergizi gratis harus dipahami sebagai investasi pembangunan manusia yang sangat strategis.
Ia mengatakan negara-negara maju tidak dibangun hanya melalui infrastruktur fisik, tetapi melalui investasi konsisten terhadap kualitas manusianya.
“Belanja yang paling visioner adalah belanja yang mengubah anak-anak menjadi pusat gravitasi kebijakan negara,” katanya.
“Ketika gizi, pendidikan, dan kesehatan ditempatkan sebagai prioritas, APBN berhenti menjadi sekadar neraca keuangan dan berubah menjadi mesin pembentuk kualitas bangsa,” lanjutnya.
Meski mengakui defisit APBN 2025 mendekati ambang batas 3 persen, Haidar menilai kondisi tersebut masih berada dalam koridor hukum dan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang.
Ia menyebut Presiden Prabowo sedang mengubah APBN dari sekadar instrumen akuntansi menjadi instrumen rekayasa peradaban nasional.
“Presiden Prabowo tidak sedang menyusun anggaran tahunan semata. Ia sedang menulis blueprint peradaban,” pungkasnya.



