JAKARTA, HOLOPIS.COM – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, memaparkan tiga fokus utama yang langsung menjadi prioritas pembenahan pada pekan pertamanya memimpin lembaga tersebut. Ketiga hal itu meliputi pemberantasan praktik korupsi, perbaikan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta peningkatan transparansi dan pelibatan publik dalam pengawasan.
Hal itu disampaikan Sudaryono dalam konferensi pers di Kantor BGN, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026). Ia mengaku belum genap sepekan menjabat sebagai Kepala BGN, namun langsung bergerak mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi lembaga tersebut.
“Saya ingin menyampaikan beberapa hal terkait Badan Gizi, ini adalah hari kemudian saya belum genap satu minggu sebagai kepala BGN yang baru, dan saya berusaha untuk segera mungkin mengidentifikasi persoalan,” kata Sudaryono.
Menurutnya, terdapat tiga persoalan utama yang menjadi fokus pembenahan tanpa mengesampingkan persoalan lainnya.
1. Berantas Praktik Korupsi di BGN
Sudaryono menegaskan persoalan pertama yang menjadi perhatian adalah dugaan tindak pidana korupsi yang kini tengah ditangani Kejaksaan. BGN, kata dia, akan mendukung penuh proses hukum yang sedang berjalan.
“Kalau boleh kami sampaikan di sini persoalan utama yang paling utama yang kami hadapi di BGN ini bukan kok mengesampingkan persoalan lain tapi kami fokus pada tiga hal yang utama. Yang pertama adalah adanya perilaku atau tindakan koruptif yang ada di BGN ini yang sebagaimana anda semua sudah tahu bahwa sudah ditangani oleh Kejaksaan, dan kita pada intinya terkait tindak pidana korupsi ini menyerahkan sepenuhnya mekanisme penanganannya kepada pihak yang memang menangani yaitu Kejaksaan, dan kami siap untuk bekerjasama seluas-luasnya, membuka akses seluas-luasnya selebar-lebarnya terhadap apapun informasi yang dibutuhkan dalam proses penyelidikan maupun penyidikan dalam proses hukum orang-orang yang memang diduga telah melaksanakan pelanggaran,” ujarnya.
2. Perbaiki Tata Kelola Program Makan Bergizi Gratis
Prioritas kedua adalah memastikan tata kelola Program MBG berjalan sesuai standar. Sudaryono menekankan bahwa tujuan utama program tersebut adalah memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, bukan sekadar menyediakan makanan.
“Yang kedua yang menjadi tantangan kami selanjutnya adalah bagaimana kita memastikan bahwa tata kelola yang baik dalam penyelenggaraan makan bergizi gratis, sekali lagi ini namanya makan bergizi gratis, bukan makan enak gratis, bukan makan banyak gratis ya, ini makan bergizi gratis, kecukupan gizinya lah yang menjadi tolok ukurnya,” katanya.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat lebih dari 27 ribu dapur MBG yang telah disiapkan. Menurutnya, kepala SPPG di setiap dapur merupakan aparatur negara sehingga harus menjalankan tugas secara profesional dan bertanggung jawab.
“Saya ulangi status kepala dapur di setiap dapur adalah abdi negara, sehingga penting bagi kami memastikan abdi negara di setiap dapur itu kemudian bekerja dengan sebaik-baiknya, sebersih-bersihnya, dan memastikan menu yang tersaji itu adalah baik. Karena kepala SPPG adalah pegawai kami abdi negara di bawah Badan Gizi Nasional,” tegasnya.
3. Tingkatkan Transparansi dan Libatkan Publik



