HOLOPIS.COM, LOMBOK TENGAH — Desa Adat Sade yang terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata budaya paling ikonik di Pulau Lombok.
Pemukiman tradisional yang berada tepat di lintasan utama menuju kawasan wisata Mandalika tersebut senantiasa menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan keautentikan kehidupan Suku Sasak.
Perkampungan yang dihuni oleh ratusan jiwa ini secara konsisten mempertahankan bentuk arsitektur vernakular yang berdiri kokoh di atas perbukitan kecil.
Seluruh bangunan di kawasan perkampungan tersebut dibangun menggunakan bahan-bahan alami, seperti tiang kayu, dinding dari anyaman bambu atau gedek, serta atap dari susunan ilalang kering.
Salah satu tradisi paling unik yang menarik perhatian dunia dari Desa Adat Sade adalah kebiasaan warganya dalam merawat lantai rumah menggunakan kotoran ternak.
Masyarakat setempat secara berkala melumuri lantai tanah rumah mereka menggunakan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan sedikit air.
Warga meyakini bahwa usapan kotoran ternak tersebut berfungsi untuk memperkuat lantai tanah agar tidak mudah retak, menahan debu, sekaligus mengusir nyamuk secara alami.
Setelah proses pengusapan selesai, lantai kemudian disapu menggunakan serabut kelapa dan dibiarkan mengering hingga permukaan tidak berbau dan tampak mengkilap.

Pintu utama yang dibuat pendek tersebut mengharuskan setiap orang untuk membungkukkan badan saat hendak melangkah masuk ke dalam ruangan.
Rancangan pintu ini memiliki filosofi mendalam sebagai simbol kerendahan hati dan bentuk penghormatan tamu kepada tuan rumah.
Di samping arsitektur bangunan, Desa Adat Sade juga sangat tersohor dengan tradisi menenun kain khas Sasak yang diwariskan secara turun-temurun.
Kaum perempuan di desa tersebut diwajibkan untuk terampil menenun kain songket atau ikat sebagai salah satu syarat adat sebelum diperbolehkan menikah.




