Internasional

Isi Lengkap Pidato Presiden Prabowo, Komitmen Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Ronalds Petrus Gerson
Bagikan:

JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pidato bersejarah di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80, Selasa (23/9/2025).

Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan pentingnya solidaritas global, keadilan multilateral, dan komitmen Indonesia dalam memperjuangkan perdamaian dunia, termasuk penyelesaian krisis kemanusiaan di Palestina.

Pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Umum PBB

Yang Mulia Sekretaris Jenderal PBB, Bapak Antonio Guterres.
Yang Mulia, Presiden Majelis Umum PBB, Madame Annalena Baerbock.
Yang Mulia, Bapak Morses Abelian, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Majelis Umum dan Manajemen.
Yang Mulia para Kepala Negara, Kepala Pemerintahan, Delegasi yang terhormat, Hadirin sekalian,

Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk berdiri di hadapan forum terhormat ini, bersama para pemimpin dan perwakilan dari hampir seluruh umat manusia. Kita berbeda ras, agama, dan kebangsaan, tetapi hari ini kita berkumpul sebagai satu keluarga manusia.

Kita hadir di sini pertama-tama sebagai sesama manusia, yang diciptakan setara, dengan hak yang tidak bisa dicabut atas kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan. Kata-kata dalam Declaration of Independence telah menginspirasi gerakan demokrasi di berbagai belahan dunia, termasuk Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, Revolusi Meksiko, Revolusi Tiongkok, dan perjuangan bangsa Indonesia sendiri menuju kemerdekaan. Dari semangat itu pula lahir Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang diadopsi PBB tahun 1948.

Prinsip bahwa semua manusia diciptakan setara telah membuka jalan menuju martabat dan kemakmuran global yang luar biasa. Namun, di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini—era yang sebenarnya mampu mengakhiri kelaparan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan—kita masih menghadapi bahaya, tantangan, dan ketidakpastian besar. Keserakahan, ketakutan, rasisme, kebencian, penindasan, dan apartheid terus mengancam masa depan kita bersama.

Bangsa saya tahu betul pahitnya hal itu. Selama berabad-abad, rakyat Indonesia hidup dalam penjajahan, penindasan, dan perbudakan. Kami diperlakukan lebih rendah dari binatang di tanah air sendiri. Kami tahu artinya hidup tanpa keadilan, tahu rasanya hidup dalam apartheid, hidup dalam kemiskinan, dan dirampas hak untuk memiliki kesempatan yang sama.

Tetapi kami juga tahu apa arti solidaritas. Dalam perjuangan kami meraih kemerdekaan, mengatasi kelaparan, penyakit, dan kemiskinan, PBB berdiri bersama Indonesia, memberi bantuan yang sangat berarti. Keputusan-keputusan di forum ini, yang lahir dari solidaritas kemanusiaan, memberi kami kemerdekaan, legitimasi internasional, membuka jalan, dan mendukung pembangunan awal kami melalui UNICEF, FAO, WHO, dan banyak lembaga PBB lainnya. Karena itulah, Indonesia kini berdiri di ambang kemakmuran bersama, kesetaraan, dan martabat yang lebih baik.

Yang Mulia, dunia saat ini masih diliputi konflik, ketidakadilan, dan ketidakpastian yang semakin dalam. Setiap hari kita menyaksikan penderitaan, genosida, dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan nilai kemanusiaan. Namun, kita tidak boleh menyerah. Seperti kata Sekjen PBB, kita tidak boleh melepaskan harapan dan cita-cita.

Kita harus semakin mendekat, bukan menjauh. Bersama, kita harus berusaha mewujudkan impian kita. PBB lahir dari abu Perang Dunia II, untuk menjamin perdamaian, keamanan, keadilan, dan kebebasan bagi semua. Indonesia tetap berkomitmen pada internasionalisme, multilateralisme, dan semua upaya untuk memperkuat lembaga besar ini.

ARTIKEL TERKAIT