Opini

Indonesia Tetap Merdeka, Jangan karena Kecewa pada Kebijakan Kita berhenti Mencintai Negeri

Lukman Ihsanuddin
Bagikan:

Hari ini, di tengah suasana peringatan kemerdekaan, saya melihat berbagai narasi di media sosial yang kembali mempertanyakan Indonesia. Ada yang mengatakan Indonesia belum benar-benar merdeka, ada yang menyebut negeri ini tidak berpihak kepada rakyat, dan ada pula yang begitu kecewa terhadap berbagai persoalan dan kebijakan yang menurut mereka keliru, hingga akhirnya kekecewaan itu diarahkan kepada Indonesia sebagai sebuah bangsa.

Membaca semua itu, saya berpikir: mungkin yang sedang kita persoalkan sebenarnya bukan Indonesia. Mungkin yang kita persoalkan adalah sebuah kebijakan, sebuah keputusan pemerintah, atau cara negara mengelola sebuah persoalan. Dan kalau memang itu yang kita persoalkan, bukankah lebih tepat jika kita membicarakan kebijakannya, bukan menjelek-jelekkan negerinya?

Kita boleh tidak setuju. Kita boleh kecewa. Kita boleh mempertanyakan kebijakan yang menurut kita tidak tepat. Bahkan, dalam kehidupan demokrasi, menyampaikan kritik adalah sesuatu yang wajar. Tetapi jangan sampai kekecewaan terhadap sesuatu yang sifatnya sementara membuat kita kehilangan kecintaan kepada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih panjang: Indonesia.

Indonesia Bukan Sebuah Kebijakan

Ada hal sederhana yang kadang terlupakan di tengah riuhnya percakapan politik dan media sosial: Indonesia bukan sebuah kebijakan. Indonesia bukan satu keputusan pemerintah, bukan satu program, bukan satu periode kepemimpinan, dan bukan pula satu kelompok politik. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang menurut sebagian orang baik, dan pada kesempatan lain mungkin membuat kebijakan yang dinilai kurang tepat. Itu bagian dari perjalanan sebuah negara.

Tetapi ketika sebuah kebijakan dipandang salah, yang seharusnya kita nilai adalah kebijakan tersebut. Jangan seluruh negeri yang kita salahkan. Jangan tanah air yang kita hina. Jangan bangsa sendiri yang kemudian kita anggap tidak layak dicintai.

Sebab Indonesia jauh lebih besar daripada persoalan yang sedang kita perdebatkan hari ini. Indonesia adalah jutaan kehidupan yang berjalan setiap hari: seorang ibu yang menyiapkan sarapan untuk anaknya sebelum berangkat sekolah, petani yang bekerja di sawah, nelayan yang berangkat ketika sebagian besar dari kita masih tertidur, guru yang mengajar anak-anak di berbagai pelosok negeri, pedagang kecil yang membuka usahanya pagi-pagi, pekerja yang pulang ketika hari telah gelap, dan anak-anak yang sedang belajar serta bermimpi tentang masa depan.

Mereka semua adalah Indonesia. Maka ketika kita kecewa kepada sebuah kebijakan, jangan sampai kita ikut merendahkan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.

Kemerdekaan Tidak Berarti Indonesia Harus Sempurna

Barangkali kita juga perlu memahami kembali apa arti kemerdekaan. Merdeka tidak berarti semua persoalan otomatis selesai. Merdeka tidak berarti negara akan terbebas dari kesalahan. Merdeka tidak berarti setiap kebijakan pasti benar. Dan merdeka juga tidak berarti kehidupan seluruh rakyat akan langsung menjadi sempurna.

Kemerdekaan adalah kesempatan bagi sebuah bangsa untuk menentukan jalannya sendiri; kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, memilih pemimpin, menyampaikan pendapat, memperjuangkan keadilan, dan membangun kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya.

Karena itu, ketika kita menemukan sesuatu yang belum sesuai dengan harapan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Indonesia gagal. Sebuah rumah yang masih memiliki bagian yang perlu diperbaiki bukan berarti rumah itu harus kita benci. Justru karena kita tinggal di dalamnya, kita memperbaikinya.

Begitu pula dengan Indonesia. Kalau ada yang belum baik, mari kita perbaiki. Kalau ada yang belum adil, mari kita perjuangkan. Kalau ada kebijakan yang kita anggap kurang tepat, mari kita sampaikan keberatan dengan cara yang baik. Tetapi setelah semua itu, jangan pernah berhenti mencintai Indonesia.

Bukankah Kemerdekaan Ini Dibayar dengan Pengorbanan?

Ada alasan yang jauh lebih dalam mengapa kita seharusnya tidak mudah kehilangan rasa cinta kepada negeri ini. Kemerdekaan Indonesia bukan sesuatu yang kita terima secara cuma-cuma. Ada generasi sebelum kita yang membayarnya dengan pengorbanan.

Ada orang-orang yang meninggalkan keluarga. Ada yang kehilangan harta. Ada yang kehilangan masa depan. Ada yang hidup dalam ketakutan. Dan ada yang akhirnya kehilangan nyawa.

Mereka berjuang pada zaman ketika Indonesia belum seperti yang kita kenal sekarang. Mereka tidak tahu siapa yang kelak menjadi presiden. Mereka tidak tahu kebijakan pemerintah seperti apa yang akan lahir puluhan tahun kemudian. Mereka tidak tahu apakah Indonesia akan menjadi negara maju atau masih menghadapi banyak persoalan.

Tetapi mereka percaya bahwa negeri ini harus merdeka.

Mereka memperjuangkan sebuah tanah air yang bahkan belum sempat mereka nikmati sepenuhnya. Mereka menyerahkan hari-hari yang seharusnya menjadi milik mereka agar generasi setelahnya memiliki kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Hari ini, kita adalah generasi yang menikmati hasil perjuangan tersebut. Kita bisa duduk dengan tenang, berbicara bebas, mengkritik, berbeda pendapat, memilih, dan menyampaikan ketidakpuasan di ruang publik. Bukankah semua itu patut kita syukuri? Dan bukankah karena itu pula, sudah seharusnya kita menjaga sesuatu yang diwariskan dengan begitu mahal?

Jangan Sampai Media Sosial Membuat Kita Lelah Mencintai Indonesia

Media sosial adalah ruang yang luar biasa. Di sana kita dapat menyampaikan pendapat dalam hitungan detik, menemukan informasi dari berbagai sudut pandang, dan mengetahui apa yang sedang dirasakan masyarakat.

Tetapi media sosial juga memiliki satu persoalan: emosi jauh lebih mudah menyebar daripada kebijaksanaan. Sebuah kalimat yang marah lebih cepat menarik perhatian. Narasi yang menyalahkan lebih mudah dibagikan. Pernyataan yang membuat kita tersinggung lebih cepat mendapatkan reaksi.

ARTIKEL TERKAIT