Sementara impor barang konsumsi tercatat USD 16,27 miliar, meningkat 15,48 persen.
Tiongkok kembali menjadi negara utama asal barang nonmigas yang masuk ke Indonesia.
Nilai impor nonmigas dari Tiongkok mencapai USD 66,64 miliar, setara dengan 42,42 persen dari total impor nonmigas Indonesia.
Jepang berada di urutan berikutnya dengan nilai USD 8,88 miliar atau 5,65 persen. Australia menyusul dengan USD 7,31 miliar atau 4,65 persen.
BPS menjelaskan surplus perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 terutama berasal dari perdagangan nonmigas.
“Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus USD 28,54 miliar, sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar USD 21,29 miliar,” jelas AtengDeputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono di Jakarta, Kamis (1/10).
Ini Komoditas Penyumbang Surplus
Sejumlah komoditas unggulan masih menjadi sumber surplus perdagangan nonmigas Indonesia.
Lemak dan minyak hewani atau nabati menjadi penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 24,91 miliar.
Kemudian bahan bakar mineral menyumbang surplus USD 18,84 miliar. Besi dan baja berada berikutnya dengan USD 12,10 miliar.
Ada pula nikel dan barang daripadanya yang mencatat surplus USD 8,38 miliar, serta alas kaki dengan surplus USD 4,33 miliar.
Dengan kondisi tersebut, neraca perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026 masih mampu mencatat surplus meski pertumbuhan impor tercatat cukup tinggi dibandingkan ekspor.



