Hujan Lebat Masih Guyur Indonesia di Tengah Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Hujan lebat hingga sangat lebat masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia meski sebagian besar daerah sedang berada dalam periode musim kemarau. Bahkan, curah hujan tertinggi mencapai 137 milimeter per hari di Sumatera Utara pada 3 hingga 6 September 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat selain Sumatera Utara, hujan dengan curah tinggi juga terjadi di Aceh sebesar 94 milimeter per hari, Sulawesi Selatan 55 milimeter per hari, dan Kalimantan Barat 50 milimeter per hari. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi secara lokal di tengah periode yang secara umum didominasi kondisi kering.

“Kondisi tersebut didukung oleh aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuatorial di Sumatera bagian tengah dan barat, Kalimantan bagian barat dan utara, dan Sulawesi serta adanya daerah belokan dan pertemuan angin yang mendukung peningkatan pembentukan awan hujan,” tulis BMKG, dikutip Holopis.com, Kamis (10/9).

Selain dinamika atmosfer tersebut, suhu muka laut yang relatif hangat turut mendukung pertumbuhan awan hujan. Faktor lokal seperti pemanasan permukaan, topografi, serta interaksi angin darat dan angin laut juga dapat memengaruhi terbentuknya awan hujan.

Hujan lebat tersebut terjadi ketika El Niño masih aktif dengan kategori sangat kuat. Fenomena ini secara umum mengurangi potensi pembentukan awan hujan secara signifikan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, sehingga curah hujan rendah masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia.

Meski demikian, pengaruh El Niño tidak membuat seluruh wilayah Indonesia terbebas dari hujan. BMKG memprakirakan peluang hujan masih terdapat di sejumlah wilayah pada periode 8 hingga 14 September 2026, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa bagian barat, dan Papua.

Sementara itu, pada periode 8 hingga 10 September 2026, peningkatan peluang hujan dengan intensitas sedang diprakirakan terjadi di sejumlah wilayah, yakni Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Barat, Papua Barat Daya, dan Papua.

BMKG juga mengingatkan bahwa hujan yang terjadi pada musim kemarau tetap dapat disertai petir dan angin kencang di 21 wilayah. Daerah tersebut meliputi Aceh, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak cuaca buruk yang dapat terjadi secara lokal. Dampak tersebut antara lain pohon atau dahan tumbang, baliho roboh, genangan, hingga sambaran petir. Dalam kondisi tertentu, cuaca buruk juga dapat memicu dampak yang lebih besar seperti banjir di permukiman, banjir bandang, dan longsor.

Masyarakat juga diminta menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat cuaca buruk. Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Vhina Noviyanti
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU