Pemasangan CCTV tersebut dilakukan secara swadaya menggunakan dana patungan warga sebesar Rp200.000.
Agar tidak memicu kecurigaan pelaku, alat perekam disisipkan di celah plafon ruang guru yang kebetulan sedang rusak dan berlubang.
“Di ruang guru itu ada atap yang jebol. Celah itu dimanfaatkan untuk menyisipkan CCTV di atasnya, sehingga siapa pun yang berada di dalam ruangan tidak akan menyadarinya,” ungkap Saim.
Siasat ini terbukti ampuh. Tak butuh waktu lama, kamera pengawas berhasil merekam perbuatan tak terpuji pasangan tersebut.
Dari hasil pemantauan berhari-hari, terungkap pula bahwa aksi asusila itu telah menjadi agenda rutin yang kerap dilakukan setiap hari Rabu dan Sabtu sore.
Dari hasil pemantauan CCTV, pihak sekolah disebut menemukan dua berkas rekaman yang berkaitan dengan dugaan tindakan asusila tersebut.
Rekaman pertama sempat bocor dan kemudian beredar luas hingga menjadi viral di berbagai platform media sosial.
Sementara itu, rekaman kedua disebut memiliki muatan yang lebih sensitif dan kini diamankan oleh pihak sekolah dalam sebuah flashdisk agar tidak tersebar lebih luas.



