TANGSEL, HOLOPIS.COM – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) resmi membuka bootcamp Akselerasi Ekspor Ekonomi Kreatif (ASIK) Kriya Batch 3 di Tangerang Selatan, Senin (4/5/2026).
Program ini diikuti oleh 20 jenama kriya terpilih yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari Binjai hingga Lombok Barat, sebagai upaya mendorong kesiapan ekspor produk lokal ke pasar global.
Program yang diinisiasi oleh Kementerian Ekonomi Kreatif ini tidak main-main dalam menyaring pesertanya melalui proses kurasi yang sangat ketat dan mendalam.
Melalui kurasi yang membedah setiap inci orisinalitas desain dan ketangguhan inovasi, terpilihlah para pejuang kreatif yang dianggap memiliki DNA untuk bersaing di etalase mancanegara.
Selama lima hari intensif, mereka tidak hanya diajarkan cara memoles produk, tetapi didorong untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan bagi usaha mereka.
Para peserta juga dibekali pemahaman untuk memiliki jiwa yang kuat pada identitas jenama mereka agar mampu berdiri tegak di tengah persaingan pasar internasional.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi program ini bagi wajah Indonesia di mata dunia.
“Kami melihat potensi besar dari para peserta Batch 3 untuk menjadi representasi kriya Indonesia di pasar global,” ujar Yuke saat membuka sesi di Tangerang Selatan.
Kepercayaan diri ini didasari pada rekam jejak dua angkatan sebelumnya yang telah berhasil membuka jalan bagi 40 jenama lokal masuk ke pasar internasional secara sukses.
Bagi para peserta yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, hingga Bali dan Sidoarjo, ASIK Kriya bukan sekadar tempat belajar teknis ekspor konvensional semata.
Ini adalah ruang kolaborasi di mana identitas kedaerahan bertemu dengan standar kebutuhan pasar global yang sangat dinamis dan menuntut kualitas tinggi.
Fokusnya jelas: menciptakan produk yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu bercerita tentang kekayaan budaya Indonesia yang relevan dengan gaya hidup modern.
Setelah melewati gemblengan di Tangerang Selatan ini, perjalanan mereka sebenarnya baru saja dimulai menuju gerbang perdagangan internasional yang lebih luas.
Para peserta akan dipersiapkan untuk melakukan lompatan besar melalui kolaborasi produk dan partisipasi dalam berbagai pameran strategis di panggung dunia.
Harapannya, dampak dari setiap pahatan dan jahitan yang mereka buat dapat dirasakan kembali ke kampung halaman masing-masing dalam bentuk kesejahteraan ekonomi.
Yuke Sri Rahayu menegaskan bahwa tujuan akhir dari misi ini melampaui sekadar angka penjualan atau transaksi bisnis di atas kertas saja.
“Melalui ASIK Kriya, diharapkan pelaku usaha tidak hanya mampu meningkatkan kualitas produk, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas,” tegasnya.
Hal ini mencakup peningkatan pendapatan, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan ekosistem ekonomi kreatif di daerah masing-masing secara berkelanjutan.
Kini, mata dunia sedang menunggu hasil dari tangan-tangan dingin 20 ksatria kriya ini untuk menghiasi galeri-galeri internasional dengan karya terbaik nusantara.




