Pembahasan mengenai tantangan menyusui juga berlangsung dalam sesi panel yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan.
Diskusi tersebut melibatkan Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI, dr. Lovely Daisy, MKM.; Dr. Adiatma Y. M. Siregar dari Center for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran; General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, MKM.; Wakil Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI), dr. Hikmah Kurniasari, M.K.M., M.A.R.S., CIMI, IBCLC; serta Ketua Pengurus doctorSHARE, Tutuk Utomo Nuradhy.

Diskusi juga menyoroti beban ekonomi yang dapat timbul akibat praktik menyusui yang tidak optimal serta pentingnya pendampingan bagi ibu menyusui dalam berbagai kondisi.
Sebagai salah satu anggota PFI, Dompet Dhuafa turut berkontribusi melalui penyediaan layanan dukungan menyusui, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, serta pendampingan ibu menyusui di komunitas maupun dalam situasi bencana.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperluas akses layanan dan memastikan ibu menyusui memperoleh dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.
PFI bersama anggota dan mitra pun mendorong perubahan cara pandang bahwa keberhasilan menyusui merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata kewajiban ibu.
Bagi sektor filantropi, peluang kontribusi terbuka melalui pembiayaan program, penguatan riset berbasis bukti, inovasi layanan, edukasi publik, pemberdayaan komunitas, hingga kolaborasi lintas sektor.
Melalui kampanye “Menyusui Selamatkan Nyawa, Hemat Biaya”, PFI dan Dompet Dhuafa berharap dukungan terhadap menyusui semakin dipahami sebagai investasi kesehatan dan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh keluarga, masyarakat, serta generasi mendatang.



