Namun, keberadaan pompa hybrid membuat petani kini memiliki sumber pengairan tambahan dengan debit yang cukup besar.
“Sekarang, dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, pompanisasi yang terbaru di 2026, yang hybrid itu alhamdulillah bisa menghasilkan air yang begitu deras,” katanya.
Debit Air Capai 36 Ribu Liter per Jam
Kemampuan pompa tersebut cukup besar.
Mesin dapat menghasilkan debit air sekitar 36 ribu liter per jam. Air kemudian dialirkan ke lahan pertanian untuk menjaga kebutuhan tanaman selama musim kemarau.
Bagi petani, manfaatnya bukan hanya soal ketersediaan air.
Biaya juga menjadi persoalan yang ikut teratasi.
Sebelum menerima bantuan, para petani bahkan sempat berencana memasang pompa secara swadaya. Artinya, mereka harus menanggung sendiri biaya pengadaan dan operasionalnya.
Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah bantuan pompanisasi dari pemerintah diterima.
“Dengan adanya pompanisasi ini, alhamdulillah yang kemarin rencananya petani itu mau memasang pompa swadaya, dan tidak jadi setelah ada bantuan ini. Alhamdulillah, terima kasih sekali,” ujar Mashudi.
Dengan pasokan air yang lebih terjaga, Mashudi optimistis produksi padi juga bisa ikut meningkat.
Menurutnya, tanaman yang tetap mendapatkan air hingga masa panen memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan produksi yang optimal.
“Dengan adanya bantuan pompanisasi ini, pasti nanti akan ada peningkatan tonase ketika panen, pasti,” katanya.
Harapan serupa muncul dari pemerintah desa.
Kepala Desa Susukan, Saefudin Adriansyah, mengatakan kawasan Blok Kayen memiliki lahan pertanian sekitar 309 hektare.



