HOLOPIS.COM, JAKARTA – Raffi Ahmad ungkap peran Haji Isam sebagai pemegang saham strategis dan jawab isu yang ramai diperbincangkan publik.
Langkah besar PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) memasuki lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya terwujud.
Perusahaan milik pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina resmi menjadi emiten publik, sekaligus membuka babak baru bisnis industri kreatif ke pasar modal.
Namun, di balik momen pencatatan saham perdana tersebut, ada satu sosok yang mencuri perhatian publik.
Dia adalah pengusaha besar Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih dikenal sebagai Haji Isam.
Pendiri RANS, Raffi Ahmad, secara terbuka mengungkap bahwa Haji Isam merupakan salah satu pemegang saham strategis di perusahaan tersebut.
Menurut Raffi, kepemilikan saham Haji Isam menjadi bukti adanya kepercayaan dari kalangan pengusaha besar terhadap prospek bisnis RANS.
“Untuk Bapak Andi Syamsuddin atau Haji Isam, memang beliau bisa dilihat nanti juga karena kalau kepemilikan 1 persen jelas dan iya beliau percaya kepada RANS, beliau percaya kepada saya,” ujar Raffi saat konferensi pers pencatatan saham perdana RANS di Gedung BEI, Jakarta.
Kehadiran Haji Isam dalam seremoni IPO RANS juga menjadi sorotan.
Ia hadir langsung dalam pembukaan perdagangan saham dan ikut menekan tombol tanda dimulainya perdagangan di BEI.
Bagi Raffi, kehadiran pengusaha yang dikenal memiliki jaringan bisnis luas tersebut bukan sekadar investasi, melainkan bentuk dukungan terhadap perkembangan industri kreatif nasional.
Raffi menyebut Haji Isam sebagai salah satu mentor yang memberikan dorongan kepada dirinya agar generasi muda berani membangun bisnis.
Menurutnya, masuknya investor berpengalaman menunjukkan bahwa RANS telah berkembang dari sekadar perusahaan hiburan menjadi entitas bisnis yang memiliki nilai ekonomi.
“Beliau memberikan motivasi dan mengajak teman-teman lain bersama-sama memajukan industri kreatif,” kata Raffi.
Berdasarkan prospektus perseroan, Raffi Ahmad masih menjadi pemegang saham terbesar sekaligus pengendali utama RANS.
Ia tercatat memiliki 7,935 miliar saham atau sekitar 78,68 persen dari total kepemilikan.
Posisi berikutnya ditempati oleh PT Indonesia Entertainment Grup dengan kepemilikan 911,5 juta saham atau 9,04 persen.
Selanjutnya, Soultan Ariq Rachman tercatat memiliki 345,5 juta saham atau 3,43 persen.
Selain itu, sejumlah nama besar juga masuk dalam daftar pemegang saham RANS.
Dony Oskaria tercatat menggenggam 345,25 juta saham atau 3,42 persen, disusul Sutanto Hartono dengan 144 juta saham atau 1,43 persen.
Sementara itu, Nagita Slavina Mariana Tengker memiliki 124,75 juta saham atau 1,24 persen, sedangkan Kaesang Pangarep tercatat memiliki 115,25 juta saham atau 1,14 persen.
Pemegang saham lainnya yakni Hikmat Janika dengan 86,25 juta saham atau 0,86 persen, serta PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi dengan 76,75 juta saham atau 0,76 persen.
Selain soal struktur kepemilikan, langkah RANS masuk bursa juga menjadi jawaban atas berbagai sorotan publik terhadap perusahaan tersebut.
Komisaris Utama RANS Darwin Cyril Noerhadi menegaskan seluruh proses IPO telah mengikuti aturan pasar modal yang berlaku.
Menurutnya, perusahaan harus melewati berbagai tahapan pemeriksaan sebelum saham dapat ditawarkan kepada masyarakat.
Darwin menjelaskan, proses menuju IPO mengharuskan perusahaan membuka informasi terkait aspek hukum, laporan keuangan, hingga struktur kepemilikan secara transparan.
Terkait isu yang sempat beredar mengenai dugaan pencucian uang, Darwin menyebut tudingan tersebut hanya sebatas rumor dan tidak didukung fakta.
“Masalah pencucian uang itu lebih kepada rumor yang ada daripada fakta yang ada,” ujarnya.
Ia menilai pencatatan saham di BEI justru menjadi kesempatan bagi RANS untuk memperlihatkan kondisi perusahaan secara terbuka kepada publik.
Dengan menjadi perusahaan terbuka, RANS kini memiliki peluang lebih besar untuk memperluas bisnis.
Tidak hanya di sektor hiburan digital, tetapi juga berbagai lini usaha kreatif, teknologi, gaya hidup, hingga ekosistem bisnis yang lebih luas.
Masuknya nama-nama investor besar dan tokoh bisnis ke dalam struktur kepemilikan menjadi sinyal bahwa RANS ingin bermain di level yang berbeda.
Dari perusahaan yang lahir dari industri hiburan, RANS kini mencoba membuktikan diri sebagai pemain bisnis kreatif yang diperhitungkan di pasar modal Indonesia.


