HOLOPIS.COM, JAKARTA – Serangan udara, tembakan kapal perang, artileri, hingga penembakan senjata api dilaporkan terus mengguncang kawasan permukiman di Jalur Gaza sepanjang akhir pekan. Di saat yang sama, kelangkaan bahan bakar semakin memperburuk kondisi kemanusiaan dan mengganggu berbagai layanan penting bagi warga sipil.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) pada Senin (22/6) mengatakan bahwa mitra keamanan dan keselamatan melaporkan insiden tersebut terjadi di seluruh wilayah Gaza, terutama di area sebelah barat yang dikenal sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line).
OCHA menyatakan keprihatinan mendalam terhadap laporan tersebut, terutama karena warga sipil termasuk di antara korban yang tewas akibat serangan yang terus berlangsung.
Menurut OCHA, perlintasan Kerem Shalom atau Karem Abu Salem saat ini masih menjadi satu-satunya jalur yang tersedia untuk masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza. Selama akhir pekan hingga Senin pagi waktu setempat, PBB berhasil mengumpulkan sejumlah bantuan dari perlintasan tersebut, termasuk makanan, selimut, perlengkapan pendidikan, perlengkapan hiburan untuk anak-anak, perlengkapan kebersihan, hingga bahan bakar.
Meski demikian, organisasi kemanusiaan terus mendesak pembukaan lebih banyak titik perlintasan dan pencabutan pembatasan terhadap berbagai barang yang sulit memperoleh izin masuk.
OCHA menyoroti bahwa pasokan bahan bakar masih sangat terbatas. Situasi ini diperparah karena tidak adanya pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) di Israel, sehingga sebagian besar organisasi kemanusiaan bergantung pada satu pemasok dari Mesir yang tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan.
Selain itu, otoritas Israel hanya mengizinkan impor bahan bakar dari Mesir maupun Israel dalam jam operasional terbatas di perlintasan Kerem Shalom.
“Akibatnya, pada pekan kedua Juni, mitra-mitra kemanusiaan di Gaza terpaksa memprioritaskan alokasi bahan bakar untuk layanan penyelamatan nyawa dan menangguhkannya untuk layanan yang kurang krusial,” kata OCHA, dikutip Holopis.com, Selasa (23/6).
Lembaga tersebut juga menyebut banyak generator tidak dapat beroperasi secara optimal karena kekurangan oli pelumas, sementara proses perizinan untuk memasukkan kebutuhan tersebut masih sulit dilakukan.
Di Tepi Barat, OCHA menyatakan tingkat kekerasan juga masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Menurut laporan yang diterima, pasukan Israel pada Minggu (21/6) menembak dan menewaskan seorang anak laki-laki serta seorang pria yang diduga terlibat dalam aksi pembakaran ban dan pelemparan bom molotov ke arah permukiman di Hebron.
OCHA menegaskan bahwa penggunaan kekuatan mematikan dalam penegakan hukum seharusnya hanya dilakukan sebagai upaya terakhir, serta menekankan pentingnya pertanggungjawaban terhadap setiap pelanggaran hukum yang terjadi.
Selain itu, akses kemanusiaan di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, masih menghadapi berbagai hambatan. Sepanjang Januari hingga Mei tahun ini, mitra kemanusiaan mencatat 230 insiden yang berkaitan dengan pos pemeriksaan, penutupan jalan, dan berbagai pembatasan lainnya yang menyebabkan keterlambatan bahkan pembatalan sejumlah misi bantuan.
Pembatasan terhadap Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) dan sejumlah organisasi nonpemerintah juga masih berlaku, baik di Gaza maupun Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.

