JAKARTA, Holopis.com – Eks penjajah Prancis akan diuji bekas jajahannya, Senegal, dalam laga sarat sejarah dan gengsi pada pembuka Grup I Piala Dunia 2026.
Laga Prancis kontra Senegal pada fase Grup I Piala Dunia 2026 bukan sekadar pertandingan pembuka bagi kedua tim.
Duel yang akan berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Rabu (17/6/2026) dini hari WIB, juga membawa muatan sejarah panjang antara bekas negara penjajah dan mantan wilayah jajahannya.
Prancis dan Senegal memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisme.
Prancis mulai hadir di Senegal pada abad ke-17 dan secara bertahap menguasai wilayah tersebut hingga menjadi koloni penuh pada abad ke-19.
Senegal baru memperoleh kemerdekaan pada 4 April 1960 setelah berada di bawah kekuasaan Prancis selama ratusan tahun.
Kini, lebih dari enam dekade setelah merdeka, Senegal kembali berhadapan dengan Prancis di panggung terbesar sepak bola dunia.
Pertemuan ini sekaligus membangkitkan memori manis bagi publik Senegal dan kenangan pahit bagi Les Bleus.
Satu-satunya pertemuan kedua negara di Piala Dunia terjadi pada edisi 2002 di Korea Selatan dan Jepang.
Saat itu, Senegal yang menjalani debutnya di Piala Dunia secara mengejutkan menumbangkan juara bertahan Prancis dengan skor 1-0 lewat gol Papa Bouba Diop.
Kemenangan tersebut menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen dan membuka jalan bagi Senegal melangkah hingga babak perempat final.
Sebaliknya, Prancis tersingkir lebih awal setelah gagal lolos dari fase grup.
Memori itu kembali mencuat menjelang duel di Piala Dunia 2026.
Senegal datang dengan status salah satu kekuatan utama Afrika yang terus menunjukkan perkembangan dalam dua dekade terakhir.
Tim berjuluk Lion Teranga itu kini diperkuat banyak pemain yang berkarier di liga-liga elite Eropa.
Menariknya, 10 dari 26 pemain Senegal yang dibawa ke Amerika Serikat lahir di Prancis, termasuk penjaga gawang utama Edouard Mendy.
Kedekatan budaya dan sepak bola antara kedua negara memang sangat terasa.
Selain memiliki sejarah kolonial, banyak pemain Senegal tumbuh dan berkembang dalam sistem sepak bola Prancis sebelum memilih membela negara asal keluarganya.
Namun pengaruh Afrika juga terlihat dalam skuad Prancis.
Sejumlah pemain andalan Les Bleus memiliki garis keturunan Afrika, termasuk Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Aurelien Tchouameni, Michael Olise, hingga N’Golo Kante.
Di atas kertas, Prancis tetap menjadi unggulan dalam pertandingan ini.
Tim asuhan Didier Deschamps datang ke Piala Dunia 2026 sebagai salah satu kandidat kuat juara bersama Spanyol.
Les Bleus lolos ke putaran final dengan status juara Grup D Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa.
Mereka juga menunjukkan performa meyakinkan dalam sejumlah laga persiapan dengan mengalahkan Brasil, Kolombia, dan Irlandia Utara.
Meski demikian, catatan pertemuan melawan tim-tim Afrika menjadi perhatian tersendiri.
Dalam beberapa edisi Piala Dunia terakhir, Prancis beberapa kali kesulitan menghadapi wakil Benua Hitam.
Selain kalah dari Senegal pada 2002, Prancis juga pernah takluk dari Afrika Selatan pada 2010 dan Tunisia pada 2022.
Statistik tersebut menjadi pengingat bahwa tim-tim Afrika kerap mampu menghadirkan kejutan saat menghadapi raksasa Eropa.
Senegal sendiri diperkirakan tetap mengandalkan karakter permainan yang menjadi ciri khas mereka selama ini, yakni organisasi pertahanan yang disiplin, kekuatan fisik, serta transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
Kapten Kalidou Koulibaly akan menjadi pemimpin di lini belakang, sementara sejumlah pemain yang berpengalaman di kompetisi Eropa diharapkan mampu memberikan ancaman bagi pertahanan Prancis.
Pelatih Senegal, Pape Thiaw, juga diyakini akan menjadikan kemenangan bersejarah tahun 2002 sebagai sumber motivasi bagi anak asuhnya.
Sebagai bagian dari generasi sepak bola Senegal yang merasakan euforia keberhasilan tersebut, Thiaw memahami betapa pentingnya duel melawan Prancis bagi publik negaranya.
Di kubu lawan, Didier Deschamps memiliki misi besar untuk membawa Prancis kembali ke puncak dunia.
Pelatih berusia 57 tahun itu membidik final Piala Dunia ketiga secara beruntun setelah membawa Les Bleus juara pada 2018 dan menjadi runner-up pada 2022.
Pengalaman panjang Deschamps dalam menangani pertandingan besar menjadi modal utama Prancis.
Mantan gelandang tim nasional Prancis itu dikenal piawai membaca permainan lawan serta mampu melakukan penyesuaian taktik selama pertandingan berlangsung.
Dengan materi pemain bertabur bintang yang dimiliki, Prancis diyakini akan berusaha mengendalikan permainan melalui dominasi penguasaan bola dan kreativitas lini tengah.
Sementara Senegal diprediksi lebih mengandalkan pressing agresif serta serangan balik cepat.
Duel ini pun diperkirakan berlangsung ketat. Prancis memang unggul dari segi pengalaman dan kedalaman skuad, tetapi Senegal memiliki modal psikologis yang tidak bisa diremehkan.
Bagi Senegal, pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin di fase grup.
Ada kesempatan untuk kembali mengulang sejarah sekaligus menunjukkan bahwa mereka mampu bersaing dengan salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia.
Sementara bagi Prancis, laga ini menjadi peluang untuk membalas luka lama yang masih membekas sejak kekalahan mengejutkan pada Piala Dunia 2002.
Karena itu, saat peluit kick-off dibunyikan di MetLife Stadium, duel antara eks penjajah dan bekas jajahannya dipastikan menghadirkan cerita lebih dari sekadar pertandingan sepak bola.


