JAKARTA, Holopis.com – Gejolak perang Timur Tengah memicu lonjakan dolar dan harga minyak, membuat industri benih-pestisida waspada terhadap skenario kurs Rp20.000 per dolar.
Industri benih dan pestisida nasional mulai dihantam gelombang tekanan akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS membuat biaya produksi membengkak, sementara pelaku usaha mulai mewanti-wanti skenario terburuk jika nilai tukar rupiah terus terpuruk hingga menembus Rp20.000 per dolar AS.
Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) sekaligus Direktur PT Primasid Andalan Utama, Ayub Darmanto, mengakui gejolak geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu kenaikan biaya yang semakin membebani industri.
Menurut dia, ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat perusahaan berada dalam posisi rentan ketika dolar terus menguat.
“Kita menjual dengan rupiah, tetapi membeli dengan dolar maupun euro. Kalau saat barang datang kurs masih Rp16 ribu per dolar, lalu saat pembayaran jatuh tempo sudah Rp18 ribu atau lebih, tentu ini sangat memukul pelaku usaha,” kata Ayub dalam diskusi media bertajuk Agro Input dan Beban Produksi Meningkat, Bagaimana Solusi Industri? di Jakarta.
Ayub mengungkapkan, pelaku usaha kini memilih bersikap menunggu sambil mengamati arah pergerakan mata uang Amerika Serikat tersebut.
Pasalnya, ancaman pelemahan rupiah yang lebih dalam masih menghantui.
“Kami melihat dulu sampai di mana pergerakan dolar. Apakah berhenti di Rp18 ribu atau terus naik ke Rp19 ribu bahkan Rp20 ribu. Jangan sampai salah mengambil kebijakan,” ujarnya.
Tekanan tidak hanya terjadi pada benih impor.
Kenaikan harga juga menjalar ke berbagai komponen produksi dalam negeri, mulai dari mulsa plastik, pupuk impor, bahan kemasan, hingga karung.
Ayub mengakui perusahaan berada dalam posisi serba sulit.
Jika harga tidak dinaikkan, kerugian semakin besar.
Namun jika dilakukan penyesuaian harga, industri berisiko mendapat penilaian negatif dari pasar.
“Kalau tidak dilakukan penyesuaian, kerugian yang ditanggung perusahaan juga besar. Karena itu kami benar-benar mencermati perkembangan pasar,” katanya.
Tekanan yang lebih berat juga dialami industri pestisida.
Dewan Pakar Agroinput sekaligus Dewan Pembina Allishter, Midzon Johannis, mengatakan sekitar 85-90 persen bahan aktif pestisida nasional masih bergantung pada impor.
Di sisi lain, seluruh formulasi pestisida sangat terkait dengan bahan turunan minyak bumi.
Akibatnya, setiap kenaikan harga minyak langsung berdampak pada ongkos produksi.
“Semua komponen dalam formulasi pestisida berbasis minyak, mulai dari bahan aktif, pelarut, adjuvan, hingga bahan tambahan lainnya. Jadi ketika harga minyak naik, biaya produksi otomatis ikut meningkat,” ujar Midzon.
Beban industri semakin berat setelah harga bahan plastik untuk botol dan jeriken pestisida dilaporkan melonjak hingga 50-100 persen.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan terpaksa masuk ke mode bertahan hidup.
Margin keuntungan terus ditekan, bahkan sebagian perusahaan disebut siap beroperasi tanpa keuntungan demi menjaga roda bisnis tetap berjalan.
“Sekarang banyak perusahaan berada dalam mode survive. Margin diperkecil, bahkan kalau perlu tidak ada margin sama sekali. Yang penting perusahaan tetap berjalan dan pasokan untuk petani tidak terganggu,” katanya.
Midzon memperingatkan ketegangan global diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir tahun.
Artinya, ancaman terhadap industri agroinput belum akan mereda dalam waktu dekat.
“Kalau situasi memburuk, tentu perusahaan akan mengambil kebijakan bisnis baru. Tetapi sekarang fokusnya adalah bertahan hidup dulu,” ujarnya.
Di tengah ancaman konflik global dan potensi El Nino, industri benih dan pestisida nasional kini menghadapi tekanan berlapis.
Jika gejolak harga energi dan kurs terus berlanjut, bukan hanya pelaku usaha yang terdampak, tetapi juga keberlangsungan pasokan sarana produksi bagi petani dan ketahanan pangan nasional.


