Tak Terlihat di Dunia Entertainment, Manohara Aktif Bebaskan Monyet, Lumba-Lumba hingga Buaya

0 Shares

Jakarta, Holopis.comManohara kini aktif menyelamatkan monyet, lumba-lumba hingga buaya dari eksploitasi liar.

Nama Manohara Odelia Pinot memang sudah lama tak terlihat aktif di dunia entertainment Tanah Air.

Namun siapa sangka, di balik jarangnya tampil di televisi maupun film, Manohara ternyata sibuk turun langsung dalam aksi penyelamatan satwa liar di Indonesia.

Hal itu terungkap saat Manohara hadir dalam podcast milik Raditya Dika.

ManoharaDalam obrolan santai tersebut, publik dibuat terkejut setelah mengetahui aktivitas sosial yang selama ini dijalani mantan model dan aktris tersebut.

Bukan sekadar kampanye di media sosial, Manohara ternyata aktif menjadi relawan organisasi penyelamatan satwa Jakarta Animal Aid Network (JAAN) sejak tahun 2017.

- Advertisement -

“Aku cukup aktif volunteering for them,” ujar Manohara dalam podcast tersebut.

Perempuan berdarah Indonesia-Prancis itu menjelaskan JAAN memiliki dua fokus utama, yakni penyelamatan satwa domestik seperti anjing dan kucing, serta satwa liar atau wildlife seperti monyet, lumba-lumba, buaya hingga orangutan.

Salah satu program yang paling sering melibatkan dirinya adalah rehabilitasi makaka ekor panjang, satwa yang dulu identik dengan atraksi topeng monyet di jalanan.

Menurut Manohara, meski praktik topeng monyet sudah lama dilarang pemerintah, kenyataannya masih ada pihak yang menjalankannya secara diam-diam.

Ia mengungkap kondisi monyet-monyet hasil penyitaan biasanya sangat memprihatinkan.

Banyak di antaranya mengalami trauma fisik maupun mental akibat eksploitasi yang mereka alami sejak kecil.

“Makaka itu sebenarnya jalannya pakai empat kaki. Tapi supaya bisa berdiri seperti manusia, mereka dicekik menggunakan rantai sampai tangan mereka lama-lama kehilangan fungsi,” ungkapnya.

Pengakuan tersebut langsung membuat Raditya Dika terkejut.

Sebab selama ini banyak orang mengira atraksi topeng monyet hanyalah hiburan biasa tanpa mengetahui penyiksaan di balik proses pelatihannya.

Manohara menjelaskan proses rehabilitasi monyet tidak mudah dan membutuhkan waktu sangat panjang.

Bahkan satu ekor monyet bisa menjalani rehabilitasi hingga dua tahun sebelum akhirnya bisa dilepasliarkan kembali.

Bukan hanya memulihkan kondisi fisik, tim penyelamat juga harus melatih kembali perilaku alami mereka agar mampu bertahan hidup di alam liar.

“Makaka itu hewan sosial. Mereka hidup berkelompok di alam bebas. Jadi mereka harus menemukan grupnya sendiri,” katanya.

Ia menjelaskan tim rehabilitasi tidak bisa sembarangan menyatukan monyet yang baru diselamatkan.

Semua harus melalui proses adaptasi hingga terbentuk kelompok sosial secara alami.

Tak semua monyet juga bisa kembali ke habitat liar.

Ada beberapa yang mengalami cacat permanen akibat kekerasan manusia, seperti kehilangan tangan atau taring yang sengaja dipotong agar tidak melukai pemiliknya.

Selain penyelamatan monyet, Manohara juga banyak terlibat dalam aksi penyelamatan lumba-lumba di Bali.

Dalam podcast tersebut, ia membongkar praktik eksploitasi lumba-lumba untuk hiburan wisata yang menurutnya masih cukup memprihatinkan.

Manohara menceritakan JAAN pernah bekerja sama dengan organisasi internasional The Dolphin Project yang didirikan Rick O’Barry, mantan pelatih lumba-lumba serial legendaris “Flipper”.

Menurutnya, Rick O’Barry justru berbalik menjadi aktivis perlindungan hewan setelah menyadari industri hiburan lumba-lumba sangat tidak manusiawi.

“Dia lihat sendiri bagaimana lumba-lumba dipakai untuk entertainment dan akhirnya memutuskan keluar dari industri itu,” ujar Manohara.

Dari kerja sama tersebut, mereka berhasil merehabilitasi lumba-lumba dari kolam pertunjukan di Bali hingga akhirnya bisa kembali hidup bebas di lautan.

“Sekarang mereka sudah gabung dengan kelompok lumba-lumba liar,” katanya bangga.

Tak hanya itu, Manohara juga pernah ikut dalam relokasi burung kasuari asal Papua hingga penyelamatan buaya dari mini zoo sebuah hotel di Bali.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan fauna luar biasa yang belum tentu dimiliki negara lain.

Namun ironisnya, banyak masyarakat lokal justru kurang peduli terhadap keberlangsungan satwa liar tersebut.

Ia mengaku sedih melihat banyak wisatawan asing rela datang jauh-jauh ke Papua demi melihat burung cendrawasih atau kasuari di habitat aslinya, sementara masyarakat Indonesia sendiri kadang kurang menghargai kekayaan alam yang dimiliki.

“Kadang orang luar lebih appreciate satwa kita dibanding kita sendiri,” ucapnya.

Kemunculan Manohara di podcast Raditya Dika pun langsung ramai diperbincangkan netizen.

Banyak yang mengaku baru mengetahui sisi lain mantan model tersebut yang kini lebih fokus pada isu lingkungan dan penyelamatan satwa liar.

Tak sedikit pula yang memuji langkah Manohara karena memilih terjun langsung membantu satwa dibanding hanya sekadar menjadi aktivis media sosial.

Di tengah minimnya kemunculan di dunia hiburan, aktivitas Manohara justru menunjukkan dirinya kini memiliki panggung berbeda, yakni menjadi suara bagi satwa liar yang selama ini tidak bisa membela diri dari eksploitasi manusia.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU