HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, mengungkapkan fakta menarik mengenai dominasi perempuan dalam industri kreatif nasional. Hal ini mencerminkan peran krusial kaum hawa dalam menggerakkan roda ekonomi baru di Indonesia.
Dalam acara Srikandi Vol. 2 yang berlangsung di Lippo Nusantara Mall, Jakarta, Jumat (1/5/2026), ia menyebutkan angka statistik yang signifikan. Ia memaparkan bahwa sekitar 60 persen sektor kreatif saat ini dipimpin oleh kaum perempuan.
Irene Umar menilai industri ini memiliki keunikan tersendiri, terutama dalam hal keseimbangan peran antar gender. Keseimbangan ini dianggap sebagai kunci sukses dari ekosistem kreatif yang sedang berkembang pesat.
Menurutnya, perempuan membawa perspektif estetika yang sangat kuat ke dalam setiap karya. Di sisi lain, kehadiran laki-laki dalam industri ini juga tetap memegang peranan yang sangat penting.
Irene menjelaskan bahwa laki-laki bertugas untuk memastikan aspek fungsionalitas dari setiap karya seni atau produk kreatif tersebut tetap terjaga dengan baik. Kolaborasi inilah yang membuat sebuah karya menjadi sempurna.
“Segala sesuatu yang kreatif pasti kan cantik-cantik. Yang punya mata untuk melihat yang bagus kaum perempuan, sedangkan kita juga membutuhkan kaum lelaki untuk make sure yang indah-indah juga functional, itulah ekonomi kreatif. Jadi ekonomi kreatif itu boleh dibilang salah satu industri yang secara gender itu sangat balance sekali,” ujar Wamen Ekraf.
Lebih lanjut, Irene menekankan bahwa fenomena dominasi ini tidak hanya terbatas pada subsektor konvensional. Selama ini, keterlibatan perempuan memang sangat lekat dengan bidang fesyen, kriya, dan kuliner.
Namun, talenta perempuan kini mulai merambah dan menorehkan prestasi internasional di bidang yang lebih teknis. Salah satunya adalah industri gim, sebuah sektor yang sebelumnya sangat didominasi oleh kaum laki-laki.
Irene Umar menaruh harapan besar agar kreativitas ini tidak hanya berhenti pada nilai keindahan atau estetika semata. Ia menegaskan bahwa setiap karya harus mampu menghasilkan dampak ekonomi yang nyata bagi pertumbuhan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Veronica Tan, turut memberikan pandangannya. Ia menyoroti pentingnya infrastruktur pendukung bagi pekerja perempuan melalui program Care Economy.
Program Ekonomi Perawatan ini dirancang sebagai peta jalan untuk pengakuan dan redistribusi beban pengasuhan. Tujuannya agar perempuan memiliki ruang gerak yang lebih luas dan fleksibel di pasar kerja tanpa terbebani tugas domestik secara berlebihan.
“Dengan adanya kesempatan yang sama, dengan adanya ruang seperti ini yang sama, kita bergerak bersama. Artinya berkolaborasi dengan Kementerian Ekraf memastikan ruang itu ada untuk para perempuan,” ujar Veronica Tan.
lebih lanjut, Wamen PPPA tersebut mengatakan bahwa Program Care Ekonomi itu menjadi sebuah peta jalan yang harus dikembangkan supaya kapasitas building perempuan untuk punya akses atau ruang untuk bekerja dan kesempatan.


