HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Iran telah mengizinkan sejumlah kapal minyak melintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan yang masih berlangsung. Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (26/3) saat rapat kabinet di Gedung Putih.
Trump menyebut total ada 10 kapal minyak yang diizinkan melintas, termasuk delapan kapal berbendera Pakistan. Ia bahkan menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “hadiah” dari Iran di tengah proses komunikasi yang masih berjalan.
“Sepertinya kita sedang berurusan dengan orang yang tepat,” ujar Trump, dikutip Holopis.com, Jum’at (27/3).
Ia menambahkan bahwa langkah tersebut menjadi indikasi adanya perkembangan dalam pembicaraan antara kedua pihak, meski dilakukan secara tidak langsung.
“Mereka berkata, ‘Untuk menunjukkan fakta kepada kalian bahwa kami nyata dan solid serta benar-benar hadir, kami akan memberi kalian delapan kapal minyak, delapan kapal, delapan kapal minyak besar,’” kata Trump. “Mereka benar dan mereka nyata.”
Trump juga mengklaim bahwa Iran mengirim dua kapal tambahan sebagai bentuk permintaan maaf atas pernyataan sebelumnya. Klaim ini muncul di tengah laporan mengenai adanya komunikasi tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, Trump mengisyaratkan bahwa opsi untuk menguasai pasokan minyak Iran tetap terbuka. Namun, ia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terkait kemungkinan tersebut.
“Saya tidak akan membicarakannya, tetapi itu adalah sebuah opsi,” ujarnya.
Ia juga menyinggung operasi sebelumnya terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurutnya, langkah tersebut memberikan keuntungan ekonomi besar bagi Amerika Serikat.
Sementara itu, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar menyebut komunikasi antara AS dan Iran memang berlangsung secara tidak langsung. Pesan disebut disampaikan melalui Pakistan sebagai perantara.
Sekadar informasi, konflik antara AS, Israel, dan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah mengganggu jalur pelayaran global di Selat Hormuz. Kawasan tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan berdampak besar terhadap ekonomi global.


