HOLOPIS.COM, FILIPINA – Bayangkan sebuah peta jalan yang tidak hanya memberi tahu ke mana kita pergi, tapi bagaimana cara agar semua orang mulai dari pedagang suvenir kecil hingga pemilik resor mewah bisa ikut sukses. Itulah semangat yang dibawa Indonesia dalam ASEAN Tourism Forum (ATF) 2026.
Menteri Pariwisata Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, mencuri perhatian di Cebu, Filipina, dengan menegaskan bahwa ASEAN bukan sekadar tetangga sebelah rumah, melainkan “jantung” dari pertumbuhan pariwisata kita.
Dalam balutan tema “Navigating Our Tourism Future, Together”, Indonesia bersama negara-negara tetangga resmi mengadopsi ASEAN Tourism Sectoral Plan (ATSP) 2026–2030.
Rencana strategis ini bukan sekadar dokumen formal, melainkan peta jalan yang bertumpu pada lima pilar utama: membangun pariwisata yang tangguh menghadapi tantangan masa depan, memberdayakan tenaga kerja agar lebih kompetitif, serta menciptakan sistem perjalanan yang mudah diakses dan tanpa hambatan di seluruh kawasan.
Selain itu, fokus utama juga diarahkan pada percepatan pariwisata digital dan diversifikasi produk yang dipadukan dengan prinsip pariwisata berkelanjutan guna menjaga kelestarian alam Asia Tenggara.
Menpar Widiyanti menekankan bahwa kolaborasi adalah kunci. “ASEAN bukan hanya pasar terdekat Indonesia, tetapi jantung pertumbuhan yang mendorong kunjungan berulang,” ujarnya Menpar.
Pesan ini pun diamini oleh Presiden Filipina, Ferdinand R. Marcos Jr. (yang diwakili Menteri Pariwisata Filipina, Christina Garcia Frasco). Pesannya jelas bahwa pariwisata harus bersifat inklusif. Artinya, manfaat ekonomi dari turis yang datang harus sampai ke tangan masyarakat lokal, bukan cuma menguap di korporasi besar.
Buat para traveler, ATSP 2026-2030 ini adalah kabar gembira. Kedepannya, akses antarnegara ASEAN diprediksi bakal makin mulus, pilihan destinasi makin beragam (diversifikasi), dan yang paling penting, kamu bisa berwisata dengan tenang karena destinasi favoritmu dikelola secara berkelanjutan.
Bersamaan dengan forum ini, sikap Indonesia jelas yaitu tidak cuma hadir untuk setor muka, tapi membawa misi besar agar pariwisata kawasan makin terintegrasi, hijau, dan tentu saja, bikin turis dunia makin jatuh cinta pada Asia Tenggara.

