HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pergantian tahun setiap 1 Januari sudah menjadi penanda global yang diterima hampir di seluruh dunia. Momen ini identik dengan perayaan, resolusi, serta berbagai tradisi yang menyertainya. Namun, penetapan 1 Januari sebagai awal tahun memiliki latar belakang sejarah panjang dan tidak selalu seragam sejak awal peradaban manusia.
Dalam banyak kebudayaan kuno, awal tahun ditentukan berdasarkan musim, sistem kepercayaan, hingga kebutuhan agraris. Artinya, tanggal 1 Januari bukan pilihan tunggal sejak awal sejarah.
Dari Romawi Kuno hingga Kalender Modern
Pada masa Romawi kuno, pergantian tahun justru dirayakan pada bulan Maret. Bulan tersebut dianggap melambangkan awal kehidupan baru karena bertepatan dengan musim tanam. Perubahan besar terjadi ketika Julius Caesar melakukan reformasi kalender pada tahun 46 sebelum Masehi.
Melalui reformasi tersebut, 1 Januari ditetapkan sebagai awal tahun resmi dalam Kalender Julian. Sistem ini kemudian menjadi dasar bagi kalender modern yang digunakan hingga saat ini.
Nama Januari berasal dari Janus, dewa bermuka dua dalam mitologi Romawi. Satu wajah Janus menghadap ke masa lalu, sementara wajah lainnya menatap masa depan, sehingga cocok dijadikan simbol pergantian tahun.
Kembang Api dan Resolusi Tahun Baru, Dari Mana Asalnya?
Perayaan Tahun Baru juga identik dengan kembang api. Tradisi ini berasal dari Tiongkok kuno, ketika suara ledakan dan cahaya dipercaya mampu mengusir energi buruk serta membawa keberuntungan. Seiring waktu, kebiasaan tersebut menyebar ke berbagai wilayah dan menjadi bagian dari perayaan Tahun Baru modern.
Kebiasaan membuat resolusi Tahun Baru ternyata sudah dikenal sejak sekitar 4.000 tahun lalu. Bangsa Babilonia melakukannya sebagai bentuk janji moral kepada para dewa di awal tahun.
Di masa sekarang, Tahun Baru dipahami sebagai momen refleksi dan evaluasi diri. Momen ini menjadi kesempatan untuk menata ulang rencana hidup dan memperbaiki hal-hal yang dirasa belum berjalan sesuai harapan.

