IPR: Langkah Budi Arie Bisa Jadi Strategi Jokowi Amankan Gibran di 2029

0 Shares
Ukuran Teks:
20
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Iwan Setiawan menilai langkah Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang kini terlihat mulai menjauh dari Presiden Joko Widodo memiliki dua makna politik penting.

Menurut Iwan, perubahan sikap Budi Arie mencerminkan kesadaran bahwa dalam politik Indonesia, kekuasaan selalu menjadi faktor utama yang menentukan arah dan posisi. Karena itu, secara realistis, Budi Arie disebut memilih untuk mendekat ke “tuan baru” Presiden Prabowo Subianto.

“Secara realistis, Budi Arie memilih bergeser ke tuan baru. Atau kasarnya, ideologi Projo itu mengikuti siapa yang sedang berkuasa. Dulu Jokowi, sekarang Prabowo,” ujar Iwan dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Rabu (5/11/2025).

Iwan menilai langkah ini bisa didorong oleh dua hal. Pertama, keinginan Budi Arie untuk tetap aman secara politik dan menjaga posisi atau pengaruhnya di pemerintahan baru. Kedua, kebutuhan untuk mendapatkan perlindungan dari kekuatan penguasa terkait sejumlah isu yang sempat menyeret namanya, termasuk soal judi online.

Hubungan Budi Arie dengan Ketua Harian Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, disebut menjadi pintu penting untuk masuk ke lingkaran kekuasaan Prabowo. “Kita tahu hubungan keduanya cukup dekat,” ujar Iwan.

Secara etika politik, langkah Budi Arie dinilai terkesan seperti “meninggalkan” Jokowi, karena selama ini wajah Jokowi menjadi simbol utama gerakan Projo.

“Dulu Budi Arie bilang Projo itu singkatan dari Pro Jokowi, tapi sekarang dia mengatakan Projo bukan Pro Jokowi. Artinya, secara simbolik pun sudah berubah arah,” tambah Iwan.

Namun, Iwan menegaskan bahwa langkah tersebut bisa jadi bukan semata bentuk pengkhianatan, melainkan strategi politik bersama Jokowi. Menurutnya, ada kemungkinan Budi Arie dan Jokowi memiliki misi tersendiri di balik pergeseran arah ini.

“Bisa jadi ini bagian dari skenario besar. Jokowi pernah menyebut dukungan relawannya untuk Prabowo–Gibran dua periode. Jadi mungkin ini bagian dari agenda itu,” jelasnya.

Bagi Jokowi, kata Iwan, mendorong Gibran menjadi calon presiden pada 2029 mungkin terlalu dini. Skenario yang lebih masuk akal adalah Gibran kembali menjadi calon wakil presiden.

Iwan juga menilai, pernyataan cepat Jokowi soal dukungan dua periode bagi Prabowo–Gibran muncul karena banyak isu yang menyerang kubu politik Solo mulai dari isu ijazah hingga proyek IKN dan Kereta Cepat Whoosh.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!

YANG BARU