MEMUAT...
-- --- ----
00:00:00
...
-- ...
Imsak 00:00
Subuh 00:00
Dzuhur 00:00
Ashar 00:00
Maghrib 00:00
Isya 00:00

GPK soal 79 Tahun Bhayangkara : Polisi Manusia, Bukan Simbol Kekuasaan

0 Shares

JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-79, Koordinator Gerakan Pemerhati Kepolisian (GPK RI), Abdullah Kelrey, mengajak publik untuk memaknai ulang keberadaan polisi, bukan sekadar sebagai aparat berseragam, tetapi sebagai manusia yang menjalankan pengabdian dalam diam dan pengorbanan yang kerap tak terlihat.

Dalam catatan reflektifnya berjudul “Polisi Juga Manusia”, Abdullah menyoroti bagaimana masyarakat selama ini cenderung menilai institusi kepolisian dari sisi seremonial dan simbolik semata, tanpa menyelami sisi kemanusiaan para personel yang berjibaku di lapangan.

- Advertisement -

“Kemuliaan bukan terletak pada pangkat atau seragam, tetapi pada ketulusan hati menjaga yang tak terlihat, dan melindungi yang tak bersuara,” tulis Kelrey seperti diterima Holopis.com, Selasa (24/6/2025).

Kelrey mengisahkan pengalamannya di wilayah-wilayah terpencil Indonesia Timur, di mana polisi kerap merangkap peran sosial: dari menjadi guru darurat di sekolah dasar, pengajar mengaji, hingga pemediasi konflik adat. Semua dilakukan tanpa sorotan media dan tanpa penghargaan formal.

- Advertisement -

“Di kampung, mereka bukan polisi. Mereka adalah abang, kakak, guru, dan tetangga,” tuturnya.

Setidaknya, GPK RI merilis data konkret selama lima tahun terakhir:

– 31.472 polisi aktif dalam program Polisi RW dan Polisi Desa yang menjadi ujung tombak ketahanan sosial.
– 6.300 personel menggantikan guru tetap di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
– 12.000 lebih anggota menjalankan peran sebagai pengajar agama dan penengah konflik komunitas.
– Rata-rata 600 polisi per tahun gugur atau terluka dalam tugas berat—dari pengamanan konflik hingga operasi narkotika.

Lebih lanjut, Survei LIPI 2023 turut memperkuat data tersebut, di mana tercatat 74% masyarakat desa merasa lebih aman setelah kehadiran polisi yang tinggal tetap di tengah mereka.

Namun, di tengah dedikasi tersebut, stigma terhadap polisi masih kuat di tengah masyarakat. Menurut Abdullah, hal ini diperparah oleh ulah segelintir oknum yang mencoreng institusi, padahal banyak aparat yang bekerja dalam sunyi demi keamanan rakyat.

“Polri memang butuh reformasi. Tapi reformasi tak akan tumbuh tanpa kepercayaan publik. Dan kepercayaan tak akan hadir jika kita menutup mata dari kenyataan bahwa polisi juga manusia,” ujarnya.

Abdullah menegaskan bahwa Hari Bhayangkara seharusnya menjadi momen refleksi kolektif, bukan sekadar ajang perayaan. Ia mengajak masyarakat untuk bersikap adil: berani mengkritik saat polisi salah, tapi juga mau mengakui dan menghargai pengorbanan yang nyata.

“Polisi yang tidur di pos ronda kampung bukan mencari pangkat. Polisi yang mengajar anak-anak membaca Quran di langgar kecil tidak mencari viralitas. Mereka hanya menjalankan tugas kemanusiaan yang tak tertulis,” pungkasnya.

Di usia ke-79 ini, Polri dihadapkan pada tantangan kepercayaan publik yang terus berubah. Tapi satu hal yang tak berubah, adalah fakta bahwa di balik seragam itu, mereka tetap manusia—yang bisa lelah, terluka, dan mencintai rakyatnya dalam diam.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
0 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru