Jumat, 20 September 2024
Jumat, 20 September 2024

Menkes dan Epidemiolog Ungkap Kunci Hadapi Strain Baru COVID-19

Jakarta, Holopis.com – Sejumlah negara di Eropa dikabarkan kembali mengalami lonjakan kasus infeksi COVID-19. Disinyalir salah satu penyebabnya adalah strain baru hasil mutasi virus yang dianggap lebih cepat menular. Selain itu, diperkirakan penyebab lainnya adalah mobilitas orang
di kawasan Eropa yang mulai terlalu longgar pasca dimulainya vaksinasi COVID-19.
Menanggapi strain baru COVID-19 dan lonjakan kasus di Eropa, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa strain baru sudah masuk di Indonesia sejak Januari
2021. “Beberapa negara di Eropa mengalami kenaikan kasus infeksi COVID-19.
Dari pengamatan kami, terjadinya lonjakan ini karena adanya strain baru yang sudah ada di Indonesia sejak Januari dan adanya mobilitas yang terlalu agresif pembukaannya,” ungkapnya.
Adapun untuk di Indonesia, lanjutnya, arahan dari Presiden Jokowi adalah mencari titik keseimbangan agar hasil penurunan angka infeksi COVID-19 yang sudah bagus karena PPKM Mikro dan vaksinasi tidak kehilangan momentum. “Sehingga angka infeksi COVID-19 di
Indonesia diharapkan terus turun dan tidak mengalami lonjakan seperti di Eropa,” Ujar Menkes.
Lebih lanjut, Budi berpesan kepada masyarakat yang sudah divaksinasi agar tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.
Prokes 3M akan bisa menghindarkan setiap orang dari infeksi COVID-19 secara umum dan juga strain barunya.
Pernyataan serupa juga pernah diungkapkan Pakar Epidemiologi Penyakit Menular Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr., M.Kes. “Yang bisa menjamin orang tidak terinfeksi virus, apapun itu, adalah protokol kesehatan 3M,” tegas Wakil Dekan Bidang II Fakultas Kesehatan Masyarakat
(FKM) Universitas Airlangga ini.
Menurut Dr. Atoillah, bagi yang sudah divaksinasi pun masih bisa kemasukan atau terinfeksi.
“Vaksin tidak mengubah atau menutup lubang hidung dan mulut jadi virus masih bisa masuk. Fungsi vaksin adalah membuat tubuh kita punya kekebalan sehingga ketika virus menginfeksi
tidak berhasil menyebabkan gejala penyakit,” jelasnya.
Bagi orang yang tidak divaksin, ketika virus menginfeksi maka bebas memporakporandakan tubuh karena tidak ada antibodi. “Vaksin itu tidak membuat kita menjadi sakti. Kalau terinfeksi sebatas diagnosis lab sangat mungkin. Dengan mendapatkan vaksin kalau terinfeksi tidak sakit.
Vaksin memberi perlindungan dari dalam sedangkan prokes 3M melindungi dari luar,” tutupnya

Temukan kami juga di Google News lalu klik ikon bintang untuk mengikuti. Atau kamu bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapatkan update 10 berita pilihan dari redaksi kami.

Rekomendasi

berita Lainnya
Related

Monkey Pox Ditularkan oleh Homo Seksual

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membenarkan...

Menkes Bongkar Bobroknya Sistem Kesehatan di Indonesia

HOLOPIS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi...

Manfaat Okra, Superfood Punya Segudang Kebaikan untuk Kesehatan

Okra, atau yang juga dikenal dengan nama ladies' fingers, merupakan sayuran hijau yang banyak digunakan dalam berbagai masakan di seluruh dunia. Meski sering dianggap sebagai sayuran sederhana, okra sebenarnya kaya akan manfaat kesehatan yang luar biasa.
Prabowo Gibran 2024 - 2029
Ruang Mula

Berita Terbaru