JAKARTA – Mabes TNI mengungkapkan motif pembantaian yang dilakukan teroris Papua atau OPM (organisasi Papua Merdeka) terhadap warga di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kapuspen TNI Brigjen Kristomei Sianturi menjelaskan bahwa serangan itu dilakukan karena para tenaga pengajar di wilayah tersebut diduga menolak memberikan uang kepada teroris Papua.
“Serangan ini diduga dilakukan oleh kelompok OPM pimpinan Elkius Kobak,” kata Kritomei dalam keterangannya pada Minggu (23/3).
Meradang tak terima penolakan, teroris Papua lantas melakukan aksi kekerasan pembunuhan, dan menganiaya enam orang guru, membakar gedung sekolah dan rumah guru, serta menimbulkan ketakutan di masyarakat.
Kristo menjelaskan bahwa saat ini pihaknya telah mengevakuasi 42 tenaga pengajar dan tenaga kesehatan dari Yahukimo ke Jayapura. Selain itu, TNI meningkatkan pengamanan di wilayah rawan dan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menindak tegas pelaku serangan ini.
“Keberadaan tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Papua sangat penting bagi kemajuan dan masa depan masyarakat setempat. TNI akan terus mendukung perlindungan mereka serta memastikan keamanan di wilayah yang berpotensi mengalami gangguan keamanan,” tukasnya.
Kristo menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen selalu melindungi masyarakat, terutama tenaga pendidik dan kesehatan yang bertugas di daerah terpencil.
Kristo menambahkan, TNI tidak akan tinggal diam terhadap aksi-aksi biadab dan pengecut yang mengancam keselamatan warga sipil dan stabilitas keamanan di Papua.
“TNI telah mengerahkan personel untuk mengevakuasi korban, mengamankan wilayah, dan mendukung pemulihan situasi pasca tindakan biadab dan pengecut dari OPM,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, Teroris Papua kembali berulah dengan melakukan penyerangan warga sipil yang ada di Bumi Cenderawasih tersebut.
Dimana kali ini warga sipil yang ada di Kampung Anggruk, Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo menjadi korban kekejian teroris Papua tersebut.
Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Candra Kurniawan menjelaskan, setidaknya ada enam orang guru dan tenaga kesehatan di Kampung Anggruk yang menjadi korban teroris Papua.
“OPM telah membunuh dan membakar hidup-hidup enam guru dan nakes serta membakar gedung sekolah dan rumah guru. Bahkan memeras dan merampok uang masyarakat di sekitarnya,” kata Candra Kurniawan dalam keterangannya yang dikutip Holopis.com, Minggu (23/3).
“Mana keadilan HAM para korban ini?” sambungnya.
Candra menjelaskan, gerombolan teroris Papua yang juga dicap OPM (organisasi Papua Merdeka) ini telah menyerang para guru dan nakes di sekitar kompleks perumahan guru. Selain itu, para teroris Papua turut membakar sekitar lokasi sehingga menyulitkan warga lainnya untuk mengevakuasi para korban.

