HOLOPIS.COM, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan memproyeksi kinerja perbankan ke depan akan semakin baik. Hal itu berdasarkan hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) yang dilakukan OJK terhadap 96 responden bank pada triwulan I-2025.
“Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK triwulan I-2025 menunjukkan responden optimis bahwa kinerja perbankan akan semakin baik,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam siaran pers, seperti dikutip Holopis.com, Rabu (5/3).
Dia menyampaikan, bahwa optimisme akan kinerja perbankan itu tercermin dari Indeks Orientasi Bisnis Perbankan (IBP) pada triwulan I-2025 yang tercatat sebesar 60 (zona optimis).
Menurutnya, Optimisme perbankan didorong oleh ekspektasi terhadap stabilitas kondisi makroekonomi, serta terus berlanjutnya peningkatan intermediasi yang dibarengi dengan kemampuan perbankan dalam mengelola risiko yang dihadapi, meskipun berada di tengah kondisi makroekonomi global yang kurang kondusif.
Lebih lanjut, Dian menjelaskan bahwa Keyakinan akan stabilitas kondisi makroekonomi domestik menyebabkan Indeks Ekspektasi Kondisi Makroekonomi (IKM) pada triwulan I-2025 berada pada level optimis yaitu sebesar 53.
“Ini oleh perkiraan bahwa kondisi makroekonomi domestik yang stabil dan prediksi BI-Rate yang cenderung menurun,” terangnya.
Seiring dengan perkiraan kondisi makroekonomi tersebut, lanjutnya Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan masih akan tumbuh didorong oleh konsumsi masyarakat yang diperkirakan meningkat seiring dengan adanya momen Ramadan dan Idulfitri atau Lebaran, peningkatan Upah Minimum Provinsi (UMP), serta adanya sejumlah stimulus ekonomi.
Selain itu, sebagian besar responden juga berpendapat bahwa risiko perbankan pada triwulan I-2025 masih terjaga dan terkendali. Hal ini terlihat dari Indeks Persepsi Risiko (IPR) sebesar 55 atau berada pada zona keyakinan bahwa risiko cukup terkendali, disertai dengan keyakinan bahwa risiko kredit dan risiko pasar yang tetap terjaga.
Kemudian dari sisi kualitas kredit, Posisi Devisa Netto (PDN) berada pada level rendah dengan aset dan tagihan dalam valuta asing (valas) yang lebih besar dibandingkan kewajiban valas (long position), serta rentabilitas masih akan meningkat seiring dengan meningkatnya penyaluran kredit. Selain itu, risiko likuiditas juga diperkirakan masih terjaga stabil dibandingkan triwulan sebelumnya.
Lebih lanjut, Dian juga menyebut ekspektasi terhadap kinerja perbankan pada triwulan I-2025 masih optimis, dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 74.
“Optimisme kenaikan pertumbuhan kredit pada triwulan I-2025 didorong oleh ekspektasi pertumbuhan ekonomi domestik yang terus berlanjut dan adanya momentum Bulan Ramadan dan hari raya Idul Fitri yang dapat mendorong permintaan kredit dan aktivitas usaha masyarakat,” katanya.
Dari sisi penghimpunan dana, responden berspekulasi bahwa pada triwulan I-2025, DPK juga akan tumbuh meningkat seiring dengan kegiatan ekonomi yang semakin membaik dan usaha bank memperoleh sumber dana untuk mendukung pertumbuhan kredit.
Adapun terkait ekkonomi global, hasil SBPO diperoleh bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat. Hal ini didorong oleh kondisi global seiring dengan masih tingginya tensi geopolitik dan potensi terjadinya perang dagang .
Sementara untuk perekonomian Indonesia sendiri pada tahun 2025 diproyeksikan akan tumbuh cukup stabil. Proyeksi tersebut didorong oleh penurunan acuan suku bunga, kebijakan ekonomi pemerintah, berakhirnya aksi wait and see para investor pasca tahun politik di 2024, serta inflasi yang diperkirakan masih terkendali.


