“Dalam politik elektoral, isu yang berulang dapat membentuk persepsi negatif, terutama apabila bertemu dengan persoalan lain terkait kinerja, kepemimpinan, dan penerimaan publik,” jelas Iwan.
Karena itu, menurut dia, persoalan tersebut tidak bisa semata-mata dilihat sebagai perdebatan teknis mengenai dokumen pendidikan.
Selain itu, polemik mengenai dokumen pendidikan juga berpotensi memengaruhi elektabilitas Gibran, meskipun dampaknya tidak otomatis.
Iwan mengatakan, pengaruhnya akan bergantung pada durasi isu, kemampuan memberikan penjelasan, serta kondisi politik dan kinerja pemerintahan menjelang Pilpres 2029. Apabila isu pendidikan terus berulang dan terakumulasi dengan kritik lainnya, persepsi publik terhadap Gibran berpotensi memburuk.
Penurunan elektabilitas pada akhirnya dapat berdampak terhadap daya tawar politik dan kemampuan Gibran membangun koalisi.
“Dalam konteks pencalonan presiden, elektabilitas merupakan salah satu modal utama. Kandidat dengan elektabilitas rendah akan lebih sulit meyakinkan partai politik bahwa pencalonannya memiliki peluang kemenangan,” tutur Iwan.
Partai Politik Bisa Hitung Ulang Dukungan
Iwan menilai partai politik akan melakukan kalkulasi rasional menjelang Pilpres 2029.
Hubungan politik saja dinilai tidak cukup untuk memastikan dukungan. Partai juga akan mempertimbangkan elektabilitas, basis pemilih, tingkat penerimaan publik, potensi sengketa hukum, hingga peluang memenangkan pemilu.
Jika Gibran dipandang masih memiliki persoalan hukum dan legitimasi yang belum selesai, partai politik dapat melakukan kalkulasi ulang.
Gibran akan dibandingkan dengan figur lain yang memiliki elektabilitas lebih tinggi, basis politik lebih kuat, atau risiko politik lebih rendah.
“Dalam situasi kompetitif, partai tidak selalu memilih figur berdasarkan kedekatan politik. Pertimbangan utama tetap berkaitan dengan peluang memperoleh suara dan memenangkan pemilu,” katanya.
Persoalan tersebut juga dinilai dapat memengaruhi kalkulasi Presiden Prabowo Subianto bersama partai-partai pendukungnya menuju Pilpres 2029.
Iwan mengatakan, jika sebelumnya Gibran dipandang sebagai salah satu opsi untuk kesinambungan politik, munculnya persoalan hukum dan legitimasi dapat mengubah penilaian tersebut.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...