“Terlalu sederhana kalau mengatakan Purbaya diganti hanya karena satu pernyataan. Tetapi kalau gaya komunikasi tersebut berulang kali menimbulkan pertanyaan di pasar dan ketidaknyamanan di kalangan elite, tentu biaya politiknya semakin besar,” ujarnya.
Arifki menegaskan, persoalannya bukan semata-mata Purbaya terlalu banyak bicara, melainkan posisi yang membuat setiap perkataannya memiliki efek berantai.
“Blak-blakan bisa menjadi modal popularitas, tetapi belum tentu menjadi modal stabilitas. Untuk seorang Menteri Keuangan, kemampuan mengelola komunikasi sama pentingnya dengan kemampuan mengelola kebijakan. Kalau pasar mulai bertanya-tanya dan elite mulai merasa tidak nyaman, persoalannya sudah bergeser dari sekadar gaya bicara menjadi persoalan politik pemerintahan,” pungkas Arifki.


💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!