Ada Orang Bahlul di Lingkaran Istana

9 Shares

JAKARTA – Isi pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Ibu Susanah, warga Kabupaten Bogor yang bekerja sebagai buruh pengupas bawang berupah Rp700 ribu per kilogram masih menjadi perdebatan serius.

Bukan soal kebenaran pekerjaan Susanah yang disebutkan Presiden Prabowo Subianto, melainkan soal bagaimana naskah pidato Presiden bisa keliru fatal.

Menurut pegiat media sosial Zulfery Yusal Koto alias Ferry Koto, kegaduhan di ruang publik soal ibu Susanah yang bekerja sebagai pengupas bawang berupah Rp700 ribu per kilogram bukanlah gorengan, melainkan ulasan faktual isi dari pidato Kepala Negara.

Baginya, soal pekerjaan dan upah Susanah bukanlah bagian dari keseleo lidah, melainkan kesalahan fatal yang dilakukan Presiden Republik Indonesia di dalam acara pidato kenegaraan karena diduga kita diakibatkan karena naskah pidato yang salah.

“Itu nyata diucapkan Presiden Prabowo, clear tak ada yang ditambah dan dikurangi. Dan faktanya ternyata Bu Susana malah bukan pengupas bawang, tapi penjahit yang dibayar Rp700/kg,” tulis Ferry Koto di akun X pribadinya @ferrykoto seperti dikutip Holopis.com, Rabu (19/8/2026).

Kesalahan naskah pidato Presiden Prabowo Subianto jelas merupakan tamparan keras bagi lingkaran Istana Kepresidenan. Betapa fatalnya sebuah naskah yang dibuat tanpa koreksi.

“Sudah sangat jelas, ini ada masalah di istana, di sekitar Presiden. Ada orang bahlul, yang enggan melakukan pengecekan ulang, tapi dipercaya mengurusi pidato Presiden,” ujarnya.

Ia berharap agar ada perbaikan serius di lingkaran Istana, sehingga kesalahan-kesalahan pidato semacam itu tidak lagi terulang di kemudian hari.

“Kebahlulan itu ada di lingkaran Presiden dan ketidakmampuan Presiden sendiri menunjuk anak buahnya, kok rakyat pula yang dituduh menggoreng,” lanjutnya.

Statemen Ferry Koto ini untuk merespons ucapan dari Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi, Hasan Nasbi yang menyayangkan narasi soal kesalahan isi pidato Presiden Prabowo Subianto dalam acara pidato Kenegaraan Presiden Republik Indonesia, Sidang Tahunan MPR RI, dan Sidang Bersama DPR-DPD RI pada Jumat, 14 Agustus 2026, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat.

Bagi Hasan Nasbi, seharusnya publik memandang substansi besar dari isi pidato Presiden ketimbang menyorot terus menerus kesalahan sebut yang menurutnya hanya menjadi gorengan publik dan algoritma di media sosial.

“Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden, yang satu kalimat dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu,” kata Hasan Nasbi di Istana Negara Jakarta, Senin 17 Agustus 2926.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya dan artikel berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO, & ShopeePay.

BACA LAINNYA

Holopis UMKM

YANG BARU