Ia menegaskan bahwa keberhasilan ekspor bukan hanya hasil kerja pemerintah, tetapi juga buah kolaborasi antara pelaku usaha, asosiasi, dan berbagai mitra strategis.
Pemerintah membuka akses pasar melalui berbagai misi dagang, sementara pelaku usaha memastikan kualitas produk tetap terjaga sesuai standar negara tujuan.
“Kami ingin membangun narasi baru bahwa Bali bukan sekadar destinasi wisata dunia. Bali juga harus dikenal sebagai etalase produk unggulan Indonesia sekaligus gerbang bagi lebih banyak produk nasional untuk memasuki pasar global,” katanya.
Menurutnya, Bali memiliki potensi besar sebagai salah satu motor penggerak ekspor nasional.
Selain sektor pariwisata yang telah mendunia, Pulau Dewata juga memiliki berbagai produk unggulan dari sektor pertanian, perikanan, ekonomi kreatif, fesyen, hingga kerajinan berbasis budaya yang memiliki nilai tambah tinggi.
Sementara itu, Pendiri PT Bali Organik Subak (BOS), A.A. Gede Wedhatama P., menyampaikan apresiasi atas dukungan Kementerian Perdagangan dalam membantu pelaku usaha membuka pasar ekspor baru.
Ia mengatakan, pengiriman salak ke Tiongkok yang dilakukan hari ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan bisnis yang berhasil diraih saat Misi Dagang Indonesia di Shanghai pada Mei 2026.
Menurutnya, misi dagang tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha Indonesia untuk bertemu langsung dengan calon pembeli sehingga proses negosiasi dapat berjalan lebih efektif hingga akhirnya menghasilkan kontrak dagang.
“Melalui misi dagang tersebut, kami dapat bertemu langsung dengan buyer, mencapai kesepakatan bisnis, dan akhirnya merealisasikan ekspor ke Tiongkok. Ke depan, kami berharap Kemendag terus membuka akses pasar baru melalui misi dagang ke berbagai negara, seperti kawasan Timur Tengah, Eropa, Australia, dan Amerika,” ujarnya.
Realisasi ekspor perdana sebanyak 3,5 ton ini menjadi langkah awal pelaksanaan komitmen bisnis senilai USD2 juta atau sekitar Rp35 miliar dalam satu tahun.
Pemerintah berharap keberhasilan tersebut dapat mendorong semakin banyak pelaku usaha nasional memanfaatkan peluang ekspor, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok komoditas hortikultura berkualitas di pasar global.
Tren peningkatan permintaan dari Tiongkok juga diharapkan menjadi momentum bagi produk pertanian Indonesia untuk memperluas pasar ke berbagai negara lainnya.


