HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak boleh ada lagi celah korupsi, khususnya dalam program andalannya yakni MBG (Makan Bergizi Gratis).
Hal itu disampaikan Presiden Prabowo dalam kegiatan Building Indonesia’s Future Generations Through Nutrition di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Rabu (3/6).
“Masalah makan ini masalah sakral. Makan bagi orang susah, tidak boleh jadi sarana memperkaya oknum-oknum. Makan paling gampang dikorupsi. Makan paling gampang dikorupsi,” kata Presiden Prabowo dalam pernyataannya yang dikutip Holopis.com.
Presiden Prabowo kemudian dalam kesempatan tersebut sampai menunjukan porsi ayam goreng yang ada dalam salah satu menu MBG.
“Coba lihat. Ayamnya, ayamnya, ayamnya kasih lihat. Yang kiri… Yang kiri… Kelihatan? Enggak kelihatan di atas? Enggak kelihatan? Yang kiri adalah ayam dipotong 14. Iya. Ayam dipotong 14. Yang ini… Yang ini berapa? Yang ini delapan, yang kanan delapan. Jadi, yang 14 saja sebesar ini. Kalau kecil begini, ya, berapa? Jangan-jangan 18 atau 22,” beber Prabowo.
Prabowo kemudian memperingatkan ketika standar menu tersebut sampai dikurangi hanya demi meraup keuntungan.
“Kalau… Kalau potong lebih dari 14, dosa! Dosa! Berapa juta anak-anak Indonesia akan kecewa? Betul? Benar, ya?” ucapnya.
Oleh karena itu, Presiden Prabowo kemudian memerintahkan para pembantunya untuk mulai mengawasi menu MBG dengan porsi yang sesuai.
“Nanti saya minta, ya, Menteri Pendidikan, Mendiksasmen, minta kepala-kepala sekolah, guru-guru, anak-anaknya suruh lapor. Ayamnya kecil atau besar? Kalau perlu secara random difoto dan ditimbang” tegasnya.
Tak hanya ayam, Presiden Prabowo kemudian juga meminta agar telur dadar tidak lagi dimasukan dalam menu MBG.
“Yang kedua, telur jangan bikin dadar,” imbuhnya.
Presiden Prabowo mengungkapkan hal itu berdasarkan cerita yang didapatkan dari para orang tua murid mengenai kondisi telur dadar. Dimana banyak dari menu tersebut berpotensi mengurangi porsi yang seharusnya.
“Kalau telur dadar, kalau telur dadar, saya sudah lama jadi orang Indonesia, kalau telur dadar, nanti dicampur macam-macam itu, iya, kan? Tepungnya lebih banyak dari telurnya,” terangnya.
Jadi, telur harus utuh, ceplok, atau rebus. Betul, ya?” tambahnya.
Presiden kemudian kembali memerintahkan para pembantunya untuk mengawasi perintahnya tersebut di lapangan.
“Mendikdasmen, kepala sekolah, guru, yakinkan tidak ada lagi telur dadar atau telur apa itu? Orek-orek, iya? Apa? Ya. Oke? Ya? Baik, kita lihat. Benar, ya? Sanggup? Awas, loh. Aku, nanti aku, aku doakan kualat. Oke? Terima kasih, kembali ke tempat,” tutupnya.

