Daya Beli Makin Melemah, Pembeli Warteg Kini Berburu Lauk Paling Murah

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COM – Daya beli masyarakat dinilai kian tertekan. Di sejumlah warteg kawasan Jabodetabek, pembeli kini lebih memilih lauk paling murah demi menekan pengeluaran harian.

Perubahan pola konsumsi masyarakat mulai terlihat di warung tegal (warteg).

Jika sebelumnya lauk seperti ayam goreng, rendang, semur daging, hingga aneka seafood menjadi pilihan favorit pelanggan, kini banyak pembeli beralih ke menu yang lebih murah demi menekan pengeluaran harian.

Fenomena tersebut dirasakan sejumlah pedagang warteg di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Mereka mengaku pelanggan kini lebih selektif saat memilih makanan dan cenderung mengutamakan harga terjangkau dibandingkan variasi lauk yang lebih mahal.

Sebagian besar pelanggan saat ini lebih sering membeli paket makan dengan nilai sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000.

- Advertisement -

Pilihan lauk yang paling banyak diminati antara lain tempe goreng, tahu goreng, telur balado, perkedel, kentang goreng, serta aneka sayuran.

Salah seorang pedagang warteg, Amirah, mengatakan perubahan perilaku konsumen mulai terasa dalam beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, pembeli yang sebelumnya tidak ragu mengambil lauk ayam atau daging kini lebih memilih menu sederhana agar biaya makan tetap hemat.

“Kalau dulu banyak yang ambil ayam goreng, rendang, atau lauk daging lainnya. Sekarang kebanyakan memilih telur, tempe, tahu, dan sayur. Yang penting bisa makan dan kenyang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pelanggan kini sangat memperhatikan total biaya yang harus dikeluarkan.

Bahkan banyak pembeli yang berusaha menjaga harga makanan tetap berada di kisaran Rp10.000-an.

Akibat perubahan tersebut, Amirah mulai mengurangi stok lauk yang harganya relatif tinggi.

Beberapa jenis lauk premium bahkan tidak lagi disediakan setiap hari karena permintaannya terus menurun.

Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika lauk berbahan daging dan seafood masih cukup diminati pelanggan warteg.

Pedagang lainnya, Kusuma, juga merasakan hal serupa.

Ia mengaku penjualan lauk seperti rendang, udang, dan seafood lainnya terus mengalami penurunan.

Saat ini, menu yang paling sering dicari pelanggan justru makanan sederhana dengan harga terjangkau.

Tempe, tahu, perkedel, kentang goreng, dan sayuran menjadi pilihan utama karena dinilai lebih ramah di kantong.

“Mayoritas pembeli sekarang mencari menu yang murah. Kalau bisa makan dengan uang sekitar Rp10.000 sampai Rp15.000, mereka sudah merasa cukup,” katanya.

Kusuma bahkan memutuskan menghentikan penjualan beberapa jenis lauk tertentu karena tingkat penjualannya tidak lagi sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan.

Salah satunya adalah udang yang harganya relatif lebih mahal dibanding lauk lainnya.

Menurut dia, pelanggan sebenarnya masih menyukai lauk tersebut.

Namun ketika harus memilih antara menu yang lebih murah atau lauk premium, sebagian besar akhirnya memilih opsi yang lebih hemat.

Fenomena serupa juga diungkapkan Surono, pedagang warteg yang telah berjualan selama bertahun-tahun di kawasan yang sama.

Ia menilai kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran sehari-hari.

Surono mengatakan pelanggan saat ini lebih fokus memastikan kebutuhan makan terpenuhi tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Karena itu, porsi nasi tetap dipertahankan, sementara pilihan lauk menjadi bagian yang paling sering disesuaikan.

“Yang berubah bukan porsi nasinya. Pembeli tetap ingin kenyang, tetapi mereka mengurangi pengeluaran dari lauk yang dipilih,” katanya.

Ia menambahkan, lauk seperti kikil, rendang, ikan goreng, maupun daging sapi yang sebelumnya cepat habis kini sering tersisa hingga sore hari.

Sebaliknya, menu sederhana justru lebih cepat terjual.

Harga Bahan Baku Naik

Selain menghadapi perubahan perilaku pelanggan, para pedagang juga harus berhadapan dengan kenaikan harga sejumlah bahan baku.

Harga minyak goreng, cabai, bahan kemasan, hingga beberapa komoditas pangan lainnya disebut mengalami kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi yang tidak mudah.

Di satu sisi, biaya operasional meningkat. Namun di sisi lain, kemampuan belanja pelanggan justru menurun sehingga ruang untuk menaikkan harga jual menjadi sangat terbatas.

Amirah mengaku kondisi usaha saat ini jauh berbeda dibandingkan masa-masa ketika warteg menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk mendapatkan makanan murah dengan berbagai pilihan lauk.

Menurutnya, penurunan jumlah pembelian lauk mahal secara langsung memengaruhi omzet harian.

Padahal, keuntungan terbesar biasanya berasal dari penjualan lauk dengan nilai jual lebih tinggi.

“Sudah beda dibanding dulu. Sekarang orang lebih banyak memilih lauk yang murah. Yang penting bisa makan tanpa mengeluarkan uang terlalu banyak,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Surono yang mengaku pendapatan usahanya mengalami penurunan cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Ia memperkirakan omzet wartegnya turun sekitar 35 persen dibandingkan periode sebelumnya.

“Pembeli masih ada, tetapi pola belanjanya berubah. Mereka lebih hemat dan lebih berhitung saat memilih makanan,” ujarnya.

Para pedagang berharap harga kebutuhan pokok dapat lebih stabil agar biaya usaha tidak terus meningkat.

Sebab, kenaikan harga bahan baku yang terjadi bersamaan dengan menurunnya daya beli membuat usaha warteg semakin tertekan.

Fenomena pergeseran pilihan lauk di warteg menunjukkan masyarakat tetap berusaha memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, namun dengan cara yang lebih hemat.

Jika sebelumnya lauk ayam, daging, atau seafood menjadi pilihan umum, kini tempe, tahu, telur, gorengan, dan sayuran menjadi menu favorit karena harganya lebih terjangkau.

Bagi pedagang, perubahan tersebut menjadi gambaran nyata kondisi konsumen saat ini.

Pembeli tetap datang ke warteg, tetapi dengan pengeluaran yang lebih terbatas dan pilihan menu yang semakin sederhana.

Yang terpenting bagi sebagian pelanggan bukan lagi variasi lauk, melainkan memastikan perut tetap kenyang dengan biaya seminimal mungkin.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU