HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tren skincare di media sosial seakan tidak pernah ada habisnya. Setelah sebelumnya ramai soal slugging hingga skin cycling, kini metode “skin flooding” kembali jadi perbincangan di kalangan pecinta skincare. Teknik ini bahkan terus wara-wiri di TikTok dan Instagram karena disebut mampu membuat kulit terlihat lebih sehat, lembap, dan glowing hanya dengan fokus pada hidrasi.
Banyak orang mulai tertarik mencoba skin flooding setelah melihat hasil kulit yang tampak lebih plump dan makeup yang terlihat lebih menyatu. Tidak sedikit juga yang merasa metode ini lebih sederhana dibanding rutinitas skincare berlapis yang terlalu rumit. Namun di balik popularitasnya, masih banyak yang bertanya-tanya apakah skin flooding benar-benar efektif atau hanya sekadar tren kecantikan sesaat.
1. Apa Itu Skin Flooding?
Skin flooding adalah teknik layering skincare yang berfokus pada hidrasi kulit. Metode ini dilakukan dengan mengaplikasikan produk skincare secara berlapis saat kondisi wajah masih lembap agar kandungan hidrasi bisa terserap lebih maksimal.
Biasanya, urutan produknya dimulai dari hydrating toner atau facial mist, lalu dilanjutkan essence maupun serum berbahan hyaluronic acid, sebelum akhirnya dikunci menggunakan moisturizer.
2. Kenapa Teknik Ini Banyak Disukai?
Salah satu alasan skin flooding ramai dicoba adalah karena hasil akhirnya membuat kulit terlihat lebih segar dan kenyal. Banyak pengguna media sosial mengaku wajah mereka terasa lebih lembap dan tidak gampang terlihat kusam setelah rutin melakukan teknik ini.
Selain itu, skin flooding juga dianggap membantu makeup jadi lebih menempel dan tidak crack, terutama untuk mereka yang punya kulit kering atau dehidrasi.
3. Tidak Semua Jenis Kulit Cocok
Meski terlihat menjanjikan, skin flooding ternyata tidak selalu cocok untuk semua orang. Pemilik kulit berminyak atau acne-prone tetap perlu berhati-hati dalam memilih produk yang digunakan.
Layer skincare yang terlalu berat bisa membuat wajah terasa lebih lengket dan berisiko menyumbat pori-pori jika formulanya tidak sesuai dengan kondisi kulit.
4. Jangan Asal Layering Produk
Banyak orang mengira semakin banyak produk hydrating yang dipakai, maka hasilnya akan semakin bagus. Padahal, kulit juga punya batas toleransi terhadap produk skincare.
Pemakaian terlalu berlebihan justru bisa membuat kulit terasa tidak nyaman dan memicu masalah baru. Karena itu, penting memilih produk dengan tekstur ringan dan kandungan yang memang dibutuhkan kulit.
5. Hidrasi Tetap Jadi Kunci Utama
Di balik semua tren skincare yang terus bermunculan, skin flooding sebenarnya mengingatkan satu hal penting, yaitu kulit tetap membutuhkan hidrasi yang cukup setiap hari.
Kulit yang terhidrasi dengan baik biasanya akan terlihat lebih sehat, halus, dan tidak mudah terasa “ketarik”. Tidak heran kalau banyak orang mulai fokus memperbaiki skin barrier dibanding terlalu sering mencoba bahan aktif yang keras.
Pada akhirnya, skin flooding bisa menjadi salah satu metode skincare yang menarik untuk dicoba, terutama bagi pemilik kulit kering atau dehidrasi. Namun seperti tren kecantikan lainnya, hasilnya tetap bisa berbeda pada setiap orang. Yang paling penting bukan mengikuti tren semata, melainkan memahami kebutuhan kulit sendiri agar perawatan yang dilakukan benar-benar memberi hasil maksimal.

