Harga Avtur Naik Gila-gilaan: Tiket Pesawat Terancam Naik, Ini Jurus Pemerintah

2 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harga bahan bakar pesawat (avtur) mengalami lonjakan tajam akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, pemerintah memastikan harga tiket pesawat domestik tetap dijaga agar tidak membebani masyarakat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa avtur bukanlah barang subsidi sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar global. Namun, pemerintah tidak tinggal diam menghadapi situasi ini.

- Advertisement -

“Dan tentunya kalau kita tidak menyesuaikan, maka berbagai maskapai penerbangan lain bisa memanfaatkan perbedaan harga tersebut,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, biaya avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total operasional maskapai. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga tiket secara signifikan jika tidak diantisipasi.

- Advertisement -

Untuk menekan dampak tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah memberikan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) melalui skema Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar Rp1,3 triliun per bulan selama dua bulan.

“Nah, dengan perhitungan tersebut jumlah subsidi yang kita berikan oleh pemerintah itu sekitar Rp1,3 triliun per bulannya. Jadi, kalau kita persiapkan untuk dua bulan, maka ini Rp2,6 triliun,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah menetapkan fuel surcharge sebesar 38 persen untuk seluruh jenis pesawat. Kebijakan ini memungkinkan maskapai menyesuaikan tarif, namun tetap dalam batas terkendali.

Dengan berbagai intervensi tersebut, kenaikan harga tiket pesawat kelas ekonomi domestik diupayakan tidak melebihi 13 persen.

“Untuk menjaga kenaikan harga tiket domestik agar tetap terjangkau oleh masyarakat, maka pemerintah menjaga kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9 persen hingga 13 persen,” tambah Airlangga.

Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan insentif berupa pembebasan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen guna menekan biaya operasional maskapai.

Kenaikan harga avtur sendiri dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang berdampak pada pasokan energi global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz.

Meski harga avtur di dalam negeri masih lebih murah dibanding negara lain seperti Thailand dan Filipina, tekanan global tetap menjadi tantangan serius.

Pemerintah memastikan stok energi nasional masih dalam kondisi aman, sehingga masyarakat diharapkan tetap tenang menghadapi situasi ini.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
2 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

Berita Terbaru