HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gempa bumi berkekuatan 7,6 magnitudo yang mengguncang wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara memicu kewaspadaan tinggi nasional. Ancaman tsunami yang sempat muncul membuat seluruh elemen penanggulangan bencana bergerak cepat untuk memastikan keselamatan warga.
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) langsung mengerahkan kekuatan penuh dari tiga Kantor SAR untuk melakukan asesmen cepat di wilayah terdampak. Langkah ini menjadi krusial guna memastikan kondisi korban serta tingkat kerusakan pascagempa.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, mengatakan tim yang dikerahkan berasal dari Sulawesi Utara, Maluku, dan Palu, yang langsung berkoordinasi dengan TNI, Polri, BPBD, serta unsur SAR lainnya.
“Tim di daerah segera melakukan asesmen cepat untuk mengetahui dampak kejadian, baik terhadap korban maupun kerusakan bangunan,” kata Syafii, dalam keterangannya dikutip pada Jumat, (3/4/2026).
Dari data Basarnas, ada satu korban meninggal dunia dan satu korban lainnya masih menjalani perawatan. Meski demikian, upaya mitigasi terus diperkuat untuk mengantisipasi potensi gempa susulan.
Menurut Syafii, kesiapsiagaan penuh ini bertujuan memberikan rasa aman kepada masyarakat, terutama jika terjadi kondisi darurat lanjutan yang membutuhkan evakuasi cepat.
Respons cepat ini dimungkinkan berkat sistem informasi terintegrasi yang menghubungkan Basarnas dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Melalui sistem itu, setiap peringatan bisa diterima secara real-time dan langsung diteruskan ke unit di lapangan.
“Kami melaksanakan tugas, melaksanakan asesmen terhadap warga dan dampak dari bangunan-bangunan, khususnya dalam hal ini Basarnas langsung di bawah koordinasi dari BNPB,” kata dia.
Tsunami Sempat Terdeteksi
Gempa yang berpusat di barat daya Pulau Batang Dua, Ternate, dirasakan hingga ke sejumlah wilayah seperti Manado dan Gorontalo dengan intensitas mencapai skala IV MMI.
Tak lama setelah gempa, gelombang tsunami sempat terdeteksi di beberapa wilayah pesisir, di antaranya Halmahera Barat setinggi 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, dan Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.
BMKG kemudian melakukan pemantauan intensif melalui tide gauge dan merilis data secara bertahap hingga akhirnya menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 09.56 WIB.
Data sementara dari BNPB mencatat satu korban meninggal dunia di Manado, satu orang mengalami luka ringan, serta 16 keluarga terdampak di Kabupaten Minahasa.
Kerusakan infrastruktur juga cukup signifikan. Di Manado, lima kantor pemerintah, satu hotel, serta satu gedung fasilitas umum dilaporkan mengalami kerusakan.
Sementara di Minahasa, dua rumah sakit mengalami kerusakan berat, lebih dari 10 rumah terdampak, serta satu kantor pemerintah ikut rusak.
Di Ternate, satu gereja dan dua rumah warga juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Meski peringatan tsunami telah dicabut, pemerintah menegaskan bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga. Upaya asesmen dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan tidak ada dampak lanjutan yang membahayakan masyarakat.

