HOLOPIS.COM, JAKARTA – Malam saat laga playoff melawan Bosnia dan Herzegovina seharusnya jadi jalan penebusan bagi Timnas Italia untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Namun, panggung playoff kembali berubah menjadi arena kehancuran bagi tim Gli Azzuri.
Di bawah sorotan tekanan dan harapan jutaan pendukung, Italia justru menulis babak baru dari tragedi panjang mereka. Kembal tersingkir lewat adu penalti oleh Bosnia dan Herzegovina, Italia memastikan kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Dari Swedia pada 2018, Makedonia Utara di 2022, hingga kini Bosnia di 2026 jadi lingkaran mimpi buruk bagi Italia.
Gol Cepat, Harapan Semu
Mengutip ulasan The Guardian, Italia sempat menyalakan asa. Berawal dari tekanan kecil yang memicu kepanikan di lini belakang Bosnia, bola jatuh ke kaki Nicola Barella yang dengan cerdas mengalirkannya kepada penyerang Moise Kean.
Tanpa ampun, Kean menghantam bola ke sudut kanan atas gawang. Gol keenam beruntunnya untuk Italia.
Namun, di balik keunggulan itu, tanda-tanda bahaya sudah terlihat. Sejak menit awal, Italia tampak gelisah. Amar Memic dengan mudah mengirim umpan berbahaya, disusul percobaan Ermedin Demirovic yang memaksa Gianluigi Donnarumma tetap waspada di bawah mistar.
Bosnia bermain tanpa rasa takut. Bahkan sebelum kartu merah Alessandro Bastoni mengubah segalanya, mereka sudah mendominasi, 11 tembakan berbanding dua.
Ketika Bastoni diusir keluar lapangan, Italia kehilangan fondasi. Pertahanan goyah, ritme hancur, dan tekanan lawan semakin tak terbendung.
Dan momen itu datang di menit ke-79. Haris Tabakovic menyamakan kedudukan, menghidupkan stadion sekaligus menghantam mental Italia.
Panggung Tragedi
Pertandingan berlanjut ke babak tambahan dengan tensi yang menyesakkan. Kedua tim bertarung hingga batas terakhir, namun tak ada gol penentu.
Semua harus ditentukan dari titik putih. Di sinilah kisah berubah menjadi tragedi. Bosnia tampil sempurna. Empat eksekutor Bosnia sukses menjaringkan tendangan dengan empat gol. Tanpa cela. Tanpa ragu. Italia? Kembali goyah di momen krusial.
Saat bola terakhir bersarang dan kemenangan dipastikan untuk Bosnia, sorak sorai pecah. Di sisi lain, Italia kembali terdiam—terjebak dalam luka lama yang terus terulang.
Saat Bosnia merayakan sejarah, Italia harus menatap kenyataan pahit. Satu generasi pemain kini tumbuh tanpa pernah merasakan atmosfer Piala Dunia.
Istilah “kiamat” yang dulu digunakan untuk menggambarkan kegagalan 2018 kini terasa seperti kenyataan yang berulang—bukan lagi kejutan, melainkan rutinitas yang menyakitkan.
Pelatih Italia, Gennaro Gattuso, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. “Sulit dicerna,” kata Gattuso dikutip dari The Guardian, Rabu, (1/4/2026).
Ia tetap memuji perjuangan tim asuhannya. Bagi dia, Moise Kean Cs tetap tampil mengejutkan. “Mereka mengejutkan saya bahkan hari ini dengan semangat yang mereka tunjukkan,” ujarnya.
Gattuso pun menyampaikan permintaan maaf. “Tapi ini sudah kali kesekian kita tidak lolos ke Piala Dunia. Saya pribadi meminta maaf untuk itu,” tuturnya.


