HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemerintah mematangkan strategi besar untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan menambah kapasitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) dan energi lainnya, mengingat cadangan energi Indonesia saat ini masih sangat terbatas, hanya mampu menopang kebutuhan nasional sekitar tiga pekan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan energi skala besar (storage) yang semula dirancang berdiri di Pulau Nipah, Batam, Kepulauan Riau, dipastikan batal. Pemerintah kini mencari lokasi baru yang dinilai lebih memadai untuk menopang proyek strategis tersebut.
Menurut Bahlil, lokasi alternatif yang tengah dipertimbangkan berada di wilayah Pulau Sumatera. Keputusan pemindahan proyek diambil setelah mempertimbangkan luas lahan di Pulau Nipah tidak mencukupi untuk kebutuhan pembangunan storage energi berskala nasional.
“Storage akan ada di daerah Sumatra, tapi Pulau Nipah kemungkinan kecil tidak. Kemungkinan besar tidak, karena arealnya yang tidak terlalu besar. Sementara kan kita butuhkan area yang cukup besar,” beber Bahlil usai ratas di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Holopis.com, Kamis (5/3/2026).
Pembangunan storage BBM dan energi lainnya menjadi agenda prioritas pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Dengan kapasitas penyimpanan yang masih minim, Indonesia dinilai rentan terhadap gejolak pasokan dan fluktuasi harga energi global.
Bahlil sebelumnya menegaskan bahwa proyek ini merupakan kebutuhan strategis untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam negeri, terutama di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian pasar energi dunia.
Rencana pembangunan fasilitas tersebut juga telah dilaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari strategi jangka panjang memperkuat fondasi energi nasional.
Pemerintah mengklaim proyek storage energi ini telah menarik minat investor. Meski belum merinci identitas pihak yang terlibat, Bahlil memastikan dukungan pendanaan sudah tersedia.
“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada,” ujar Bahlil di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Ia menjelaskan skema investasi akan menggunakan model blended financing, yakni kombinasi pendanaan dari dalam negeri dan luar negeri. “Enggak, investasinya bisa di blending antara dalam negeri dan dari luar, tapi bukan dari AS,” katanya.


