Perang Iran vs AS-Israel Picu Gangguan di Selat Hormuz, Pengiriman Minyak Dunia Tersendat

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Perang terbuka antara Iran dan koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel kian memanas. Rentetan serangan balasan membuat situasi keamanan di Timur Tengah tidak stabil dan berdampak langsung pada arus perdagangan minyak dunia.

Sejumlah perusahaan minyak global dan pedagang komoditas dilaporkan menghentikan sementara pengiriman minyak mereka melalui Selat Hormuz. Langkah ini memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok yang berpotensi memengaruhi harga minyak global.

“Kapal-kapal kami akan tetap bersandar selama beberapa hari,” kata pejabat tinggi perusahaan, dikutip Holopis.com dari Reuters, Minggu (1/3/2026).

Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan memilih untuk menghindari Selat Hormuz yang terletak di antara Iran dan Oman. Meski jalur pelayaran tersebut masih terbuka dan sebagian kapal tetap melintas, antrean tanker menumpuk di dalam maupun di luar pintu masuk selat.

Sebagai informasi, eskalasi antara tiga negara itu bermula, usai Israel bersama AS melancarkan serangan awal (pre-emptive strike) terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Serangan tersebut meningkatkan tensi konflik di kawasan serta memperburuk upaya diplomasi terkait program nuklir Iran.

Ketegangan yang meningkat membuat pelaku industri energi global bersikap lebih hati-hati, terutama dalam mengamankan jalur distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk.

- Advertisement -

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis bagi perdagangan energi global. Perairannya yang dalam dan cukup lebar memungkinkan kapal tanker minyak raksasa melintas dengan kapasitas penuh.

Volume minyak yang melewati jalur ini sangat signifikan. Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA), pada 2024 rata-rata minyak yang melewati Selat Hormuz mencapai 20 juta barel per hari atau sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak global.

Minimnya jalur alternatif untuk menyalurkan minyak dari dan ke Teluk Persia serta Laut Arab membuat Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam stabilitas energi dunia. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, dampaknya bisa langsung terasa pada lonjakan harga minyak dan inflasi global.

Arab Saudi tercatat sebagai negara terbesar yang memanfaatkan Selat Hormuz untuk ekspor minyak mentah dan kondensat. Pada 2024, aliran minyak Arab Saudi melalui jalur tersebut mencapai 5,5 juta barel per hari atau sekitar 38 persen dari total aliran minyak di Selat Hormuz.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Khoirudin Ainun Najib
Khoirudin Ainun Najib
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU