HOLOPIS.COM, JAKARTA – Inter Milan harus menelan pil pahit di Liga Champions 2025/2026. Nerazzurri tersingkir sejak playoff 16 besar, usai disingkirkan Bodo/Glimt dengan agregat 5-2. Berbanding terbalik dengan performa mereka pada kompetisi musim lalu, yang sukses tembus sampai final, sungguh ironis!
Kepastian tersingkirnya Inter itu terjadi pada leg kedua playoff 16 besar Liga Champions di Giuseppe Meazza, Rabu (25/2/2026) dini hari WIB, dimana selaku tuan rumah, Nerazzurri tak bisa memanfaatkan momentum hingga kalah dengan skor 2-1.
Hasil tersebut menyusul kekalahan Inter pada leg pertama sebelumnya saat main di kandang Bodo/Glimt, dimana Nerazzurri keok dengan skor 3-1. Klub asal Norwegia itu pun berhak melaju ke 16 besar Liga Champions.

Situasi ini kontras dengan performa Inter di Liga Champions musim lalu, Nerazzurri kala itu masih menjelma sebagai raksasa yang sukses melaju sampai ke babak final.
Perjalanan Inter sampai ke final Liga Champions musim lalu pun tak mudah, Nerazzurri hingga harus mati-matian menyingkirkan Barcelona dengan agregat 7-6.
Memang bahwa kenyataannya Inter gagal juara Liga Champions musim lalu usai kandas di final atas Paris Saint-Germain (PSG) dengan skor telak 5-0, tapi perjalanan Nerazzurri kala itu sudah cukup mengguncang tanah Eropa karena konsistensi performanya di kejuaraan Si Kuping Besar.
Kini, perjalanan Inter di Liga Champions musim 2025/2026 terhenti, kegagalan kali ini jadi yang terburuk bagi Nerazzurri dalam lima musim terakhir.
Pengakuan pahit pun dilontarkan pemain andalan Inter, Nicolo Barella. Ia menilai Bodo/Glimt layak meraih kemenangan dan melaju ke 16 besar.
“Kami kemasukan sebuah gol karena kesalahan individu, hal ini memang bisa terjadi di dalam sepakbola, tapi hal tersulitnya adalah mencetak gol, dan kami tak dapat melakukan itu,” ungkap Barella, seperti dikutip Holopis.com dari situs resmi Inter.
“Bodo/Glimt layak mendapatkan ucapan selamat, mereka mengalahkan kami kandang maupun tandang, jadi sudah jelas bahwa mereka layak lolos (ke 16 besar),” tukasnya.
Di sisi lain, pelatih Cristian Chivu mengaku kecewa, tapi tetap mengapresiasi perjuangan anak asuhnya.
“Kami sudah mencoba segalanya. Kami menghadapi tim yang sangat terorganisir, dengan sepuluh pemain di belakang bola, dan semakin lama kami tidak bisa mencetak gol, semakin percaya diri mereka,” katanya.

“Saya tidak bisa menyalahkan pemain saya, mereka telah memberikan segalanya. Mungkin mereka bisa sedikit lebih bersemangat. Kami tidak bisa memecah kebuntuan di babak pertama, dan di babak kedua mereka mencetak dua gol,” tambahnya.
“Ada banyak kekecewaan karena kami benar-benar ingin lolos, tetapi kami menghadapi tim yang terorganisir, bertekad, dan penuh energi, dan mereka pantas untuk lolos,” imbuhnya.
Dengan demikian, Inter sekarang fokus menguasai kompetisi domestik. Peluang juara Liga Italia musim ini cukup terbuka karena masih kukuh bertengger di puncak klasemen.

