HOLOPIS.COM, JAKARTA – Residu zat-zat kimia yang mencemari Kali Jaletreng hingga Sungai Cisadane jadi perhatian Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Banten. Dugaan pemicu pencemaran itu imbas kebakaran gudang pestisida di kawasan industri Taman Tekno, Setu.
Pemkot Tangsel pun melakukan langkah cepat dalam menangani cemaran residu zat-zat kimia. Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan penanganan evakuasi residu zat-zat kimia pestisida sisa kebakaran mesti segera ditangani.
Pilar juga sudah melakukan pengecekan gudang pestisida yang alami kebakaran. Pilar bersama jajaran Pemkot Tangsel sudah menyusuri aliran Kali Jaletreng bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kamis, (12/2).
“Dari kesimpulan tadi, bahwa ini harus segera dilakukan langkah bagaimana sisa-sisa residu kebakaran itu harus segera diangkut dan diolah di tempat pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3),” kata Pilar, dalam keterangannya, Jumat, (13/2/2026).
Pilar mengatakan, Pemkot Tangsel juga sudah berkoordinasi dengan Polres Tangsel. Koordinasi itu dilakukan untuk segera mengevakuasi residu yang saat ini dalam penyelidikan aparat hukum.
“Jangan sampai residu ini yang tadinya dari pestisida cair lalu terbakar lalu menguap. Serta partikel-partikel kecilnya ini, mikronya ini jangan sampai kehirup oleh masyarakat ataupun di kawasan Taman Tekno itu sendiri,” tuturnya.
Menurut dia, langkah itu harus cepat dilakukan karena mesti segera dilakukan pembersihan dulu.
“Itu yang paling penting, khawatir hujan turun, dan airnya takut masuk ke sungai,” lanjut Pilar.
Lebih lanjut, Pilar bilang Pemkot Tangsel bersama instansi terkait juga melakukan penanganan untuk netralisir kandungan zat kimia. Penanganan untuk netralisir itu terutama pada aliran Kali Jaletreng yang mengalir ke Sungai Cisadane menggunakan bubuk karbon aktif.
“Mudah-mudahan karbon aktif ini bisa mengikat senyawa kimia. Untuk langkah awal, langkah cepat,” lanjut Pilar.
“Sambil kami juga berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup mudah-mudahan ada chemical atau alat seperti apa untuk bantu menetralisir,” jelas Pilar.
Kemudian, Pilar menambahkan, penanganan dilakukan secara bertahap untuk memastikan tak ada lagi pencemaran. Hal itu baik pada udara atau aliran Kali Jaletreng yang bermuara ke Sungai Cisadane.
“Jadi, ini bukan pertama dan terakhir. Ini akan kita lakukan secara bertahap supaya kualitas air, kualitas lingkungan hidup, kita juga semakin baik lagi seperti itu,” tutur Pilar.

