HOLOPIS.COM, JAKARTA – Situasi keamanan di Negara Bagian Jonglei, Sudan Selatan, dilaporkan semakin memburuk akibat konflik antarkomunitas yang terus memanas. Badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut ribuan warga sipil kini membutuhkan bantuan mendesak berupa makanan, air bersih, tempat tinggal, dan layanan kesehatan.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Selasa (10/2) melaporkan bahwa pertempuran di wilayah utara dan tengah Jonglei kian intensif. Kondisi tersebut memicu pengungsian dalam jumlah besar dan mengganggu distribusi bantuan kemanusiaan. Jalur darat dan sungai dilaporkan ditutup, sementara penerbangan misi kemanusiaan tidak diizinkan beroperasi.
“Gelombang pengungsian ini meningkatkan risiko penyebaran kolera, dengan 55 kasus dan tujuh kematian dilaporkan dalam sepekan di wilayah Ayod dan Duk,” ungkap OCHA, dikutip Holopis.com, Rabu (11/2).
OCHA juga mencatat bahwa sejak 28 September 2024, Sudan Selatan telah melaporkan lebih dari 98.000 kasus kolera dan lebih dari 1.600 kematian di sembilan negara bagian.
“Penularan kolera kemungkinan akan meningkat menjelang musim hujan jika tim dan pasokan bantuan kemanusiaan terus dibatasi,” lanjut pernyataan tersebut.
Koordinator Bantuan Kemanusiaan PBB Anita Gbeho menyerukan penghentian kekerasan.
“Menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil dan para pekerja kemanusiaan, serta menghentikan serangan terhadap aset-aset kemanusiaan.”
Sejak akhir Desember lalu, otoritas setempat melaporkan bahwa bentrokan dan serangan udara yang kembali terjadi telah memaksa sekitar 280.000 orang meninggalkan rumah mereka.
Bagaimana dengan posisi paspor Indonesia?
Paspor Indonesia pada awal 2026 berada di kisaran peringkat 58 hingga 64 dunia menurut Henley Passport Index dan Passport Index. Warga Negara Indonesia memiliki akses bebas visa, Visa on Arrival, atau eTA ke lebih dari 70 hingga 88 negara.

