HOLOPIS.COM, JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran akan melakukan negosiasi terkait program pengembangan nuklir di Muscat, Oman, pada Jumat pekan ini. Pembicaraan AS-Iran dipastikan terealisasi karena pejabat dari dua negara itu sudah bicara.
Seorang pejabat Gedung Putih sudah membenarkan perihal perundingan dengan Iran. Menurut pejabat itu kepada Anadolu, menyampaikan jawaban dengan syarat anonim.
Tapi, ia konfirmasi AS bahwa pembicaraan akan berlangsung pada Jumat (5/2). Pun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan AS akan berlangsung di Muscat sekitar pukul 10 pagi waktu setempat.
Media berita AS Axios sebelumnya menyampaikan bahwa Washington memberi tahu Teheran bahwa mereka tak akan menyetujui tuntutan untuk mengubah lokasi atau format pembicaraan yang dijadwalkan pada Jumat.
“Kami mengatakan kepada mereka bahwa ini atau tidak sama sekali, dan mereka berkata, ‘Baiklah, kalau begitu tidak sama sekali,” tulis laporan Axios yang mengutip omongan pejabat AS.
Sebelumnya, media Iran juga melaporkan bahwa Iran dan AS dijadwalkan untuk mengadakan negosiasi tidak langsung pada Jumat di Muscat. Fokus pertemuan AS-Iran dengan membicarakan isu terkait nuklir.
Sebelum Muscat, Istanbul juga mengusulkan menawarkan sebagai tempat penyelenggaraan. Hal itu setelah intervensi manuver Turki yang ingin meredam ketegangan antara kedua negara.
Axios mengutip seorang pejabat yang mengatakan bahwa jika Iran bersedia kembali ke format asli untuk pembicaraan tersebut, AS siap bertemu minggu ini atau minggu depan.
Namun, dari laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, mengutip sumber yang mengatakan Washington berupaya untuk “mengangkat isu-isu di luar kerangka nuklir, termasuk masalah pertahanan.”
Menurut laporan Mehr News Agency, tuntutan-tuntutan itu tak hanya tidak terkait dengan masalah nuklir. Tapi, secara langsung terkait dengan keamanan nasional dan kemampuan pencegahan negara. “Dan, pada dasarnya tidak dapat dinegosiasikan,” demikian sumber yang tak disebutkan namanya itu.
Dari laporan itu, Iran disebut siap bernegosiasi dalam kerangka kerja yang sudah ditentukan berdasarkan rasa saling menghormati dalam masalah nuklir.
“Penekanan pada tuntutan yang berlebihan dan pengangkatan isu-isu di luar kesepakatan adalah faktor utama di balik potensi kebuntuan,” jelas Mehr News Agency.

