HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pemulihan pascabencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat) kini tak lagi melulu soal perbaikan infrastruktur jalan atau jembatan. Pemerintah, melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), membawa pendekatan baru yang lebih “berwarna”: Ekraf Peduli.
Dalam Rapat Koordinasi Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi di Jakarta (15/1/2026), sebuah visi besar ditegaskan yaitu membangun kembali bukan sekadar kembali ke titik nol, tapi melompat lebih tinggi dengan kreativitas.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menekankan pentingnya efisiensi data. Targetnya jelas: satu dashboard terintegrasi agar bantuan dan pembangunan tidak tumpang tindih. “Misi utamanya adalah data tunggal. Ini kunci agar mitigasi di masa depan lebih tangguh,” tegasnya.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, membawa perspektif yang menyentuh sisi kemanusiaan dan ekonomi sekaligus. Melalui inisiatif Ekraf Peduli, pemulihan dilakukan secara emosional dan produktif.
Pada fase rehabilitasi, Kemenekraf meluncurkan Ruang Kreatif Merah Putih sebagai wadah bagi masyarakat terdampak untuk kembali berkarya. Di lokasi ini, para pelaku ekonomi kreatif mendapatkan pendampingan literasi bisnis yang komprehensif, mencakup akses terhadap sumber pendanaan dan pembiayaan usaha.
Selain itu, program ini juga membekali warga dengan pelatihan pembuatan konten digital guna menyebarkan narasi positif mengenai proses pemulihan. Upaya trauma healing pun turut diperkuat melalui hiburan edukatif, mulai dari pemutaran sinema rakyat, penguatan musik lokal, hingga permainan kreatif yang dirancang khusus untuk memulihkan keceriaan anak-anak pascabencana.
Saat memasuki tahap rekonstruksi, fokus beralih sepenuhnya pada upaya penguatan kemandirian ekonomi. Warga terdampak tidak hanya diberikan bantuan stimulan, tetapi juga dibekali dengan “pancing” berupa keahlian baru melalui berbagai lokakarya dan pelatihan intensif.
Program ini mencakup workshop desain kemasan untuk meningkatkan nilai jual produk lokal, serta pelatihan menjahit busana ready-to-wear dan kriya tradisional seperti batik, sulam, hingga anyaman.
Selain keterampilan tangan, pemerintah juga mendorong pengembangan kewirausahaan digital yang mengintegrasikan aspek teknologi dengan nilai budaya setempat. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan adaptif bagi masyarakat Sumatera di masa depan.
Berdasarkan data BNPB (5/1/2026), terdapat 52 kabupaten/kota di tiga provinsi (Aceh, Sumut, Sumbar) yang terdampak hebat. Skala bencana ini memicu kolaborasi besar-besaran.
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci seperti Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Menko Polkam Djamari Chaniago, Menko Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, serta tiga kepala daerah utama: Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, dan Gubernur Sumut Bobby Nasution.
Ekraf Peduli menjadi bukti bahwa di tengah reruntuhan bencana, kreativitas bisa menjadi fondasi paling kokoh untuk bangkit. Sumatera tidak hanya sedang diperbaiki, tetapi Sumatera juga sedang didesain ulang untuk menjadi lebih berdaya.


