HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan strategi komprehensif pemerintah dalam menjaga fondasi ekonomi nasional guna mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2026.
Dia menyampaikan, sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta percepatan penyerapan anggaran di awal tahun menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Purbaya, langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah memastikan stabilitas dan kecukupan likuiditas dalam sistem keuangan nasional melalui koordinasi erat dengan Bank Indonesia (BI).
“Yang pertama berdoa. Pertama, kita pastikan likuiditas sistem finansial cukup baik. BI dan keuangan sudah setuju untuk menjaga itu bersama. Yang kedua, saya pastikan program-program belanja pemerintah dibelanjain cepat di awal tahun ini. Terus, kalau likuiditas sistem cukup baik biasanya sektornya jalan kan,” kata Purbaya dalam keterangannya, dikutip Holopis.com, Rabu (21/1/2026).
Purbaya menjelaskan, upaya-upaya tersebut dilakukan agar aktivitas ekonomi di berbagai sektor dapat berjalan optimal sejak awal tahun.
Selain menjaga likuiditas, pemerintah juga fokus memperbaiki iklim investasi melalui proses debottlenecking atau penguraian hambatan regulasi.
Purbaya menyampaikan, bahwa agenda penyelesaian hambatan investasi terus berjalan, meskipun sempat mengalami penyesuaian jadwal akibat padatnya agenda rapat bersama DPR.
Lebih lanjut, Menkeu menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen sangat realistis untuk dicapai di tahun ini, mengingat berbagai stimulus dari pemerintah memang memerlukan waktu sebelum dampaknya terasa secara nyata di sistem ekonomi.
“Jadi, kita akan perbaiki semuanya. Kita akan perbaiki supply, demand, ekonomi investasi. Kebijakan moneter, kebijakan fiskal, sektor, semuanya kita jalankan,” kata dia.
“Enam persen enggak terlalu sulit. Tahun ini 6 persen bisa. Karena ekonomi itu responsnya cenderung agak lambat terhadap stimulus, kalau saya inject sekarang ke sistem mungkin 4 bulan baru kelihatan,” sambungnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyoroti lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang baru-baru ini menyentuh level tertinggi sebagai cerminan nyata kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan pemerintah.
Menurutnya, penguatan IHSG bukan terjadi tanpa dasar, melainkan didorong oleh penilaian investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Tapi kan, Anda lihat triwulan pertama, udah kelihatan Januari lebih bergairah daripada tahun-tahun sebelumnya. IHSG naik bukan karena pemain pasar bodoh. Mereka itu orang-orang pintar, mereka melihat aspek kehidupan seperti apa, mereka nilai kebijakan kita seperti apa, kemudian mereka tentukan posisi berdasarkan itu. Jadi, asing sudah masuk ke sini 3 bulan terakhir kan modal asing inflow-nya positif,” ujar Purbaya.


