HOLOPIS.COM, JAKARTA – Harga emas dunia dan logam mulia di pasar domestik diproyeksikan melanjutkan tren penguatan signifikan pada pekan depan, seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global serta memanasnya perang dagang antarnegara besar.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai harga emas dunia yang saat ini ditutup di level USD 4.595 per troy ounce masih memiliki ruang kenaikan yang cukup lebar menuju rekor baru.
Seiring dengan itu, harga logam mulia di dalam negeri diperkirakan akan bergerak sejalan mengikuti penguatan harga global, mengingat peran emas yang dinilai kenjadi salah satu aset aman atau safe haven.
“Resistance kedua kemungkinan besar akan mengalami penguatan untuk harga emas dunia di 4.706, dolar per troy ounce. Logam mulia nya di Rp2.820.000,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, dikutip Holopis.com, Senin (19/1/2026).
Ibrahim menjelaskan, terdapat sedikitnya lima faktor utama yang berpotensi menggerakkan harga emas pada pekan depan. Pertama, kebijakan Uni Eropa yang menerapkan bea masuk dumping terhadap alumina asal China, serta ancaman tarif sebesar 20 persen dari Amerika Serikat terhadap Eropa terkait isu Greenland, dinilai memperbesar ketidakpastian pasar global.
Kedua, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Eropa Timur. Situasi Iran yang berada dalam kondisi siaga perang, serta serangan balasan Ukraina ke wilayah Rusia, turut meningkatkan risiko geopolitik global. Kondisi ini semakin memanas dengan kehadiran kapal induk Amerika Serikat, Abraham Lincoln, di kawasan Timur Tengah.
Faktor ketiga datang dari kebijakan bank sentral dunia. Bank sentral di berbagai kawasan, mulai dari China, India, hingga negara-negara ASEAN, disebut terus melakukan pembelian logam mulia secara masif sebagai bagian dari cadangan devisa di tengah situasi global yang dinilai “gawat”.
Keempat, sentimen dari Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. Pemanggilan Ketua Federal Reserve Jerome Powell oleh otoritas hukum AS, serta spekulasi penurunan suku bunga menjelang masa pensiunnya, turut membayangi pergerakan dolar AS dan berdampak pada harga emas dunia.
Sementara faktor kelima berasal dari dalam negeri. Tekanan yang masih dialami nilai tukar rupiah membuat harga beli logam mulia di pasar domestik menjadi lebih mahal, meskipun dipicu oleh sentimen eksternal.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa peluang koreksi teknis tetap terbuka. Oleh karena itu, ia juga memetakan area support sebagai langkah mitigasi bagi pelaku pasar, meskipun tren utama harga emas dalam jangka pendek masih cenderung menguat.


