HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menekankan pentingnya peran filantropi dalam menjaga kohesi sosial di tengah struktur ekonomi nasional yang masih timpang. Menurutnya, kerja-kerja kemanusiaan memiliki fungsi strategis sebagai penyeimbang antara keterbatasan negara dan dominasi mekanisme pasar.
Hal itu disampaikan Anis Matta saat menjadi pembicara dalam Indonesia Humanitarian Summit yang digelar Dompet Dhuafa di NT Tower, Jakarta Timur, Kamis (15/1).
“Kerja filantropi ini merupakan instrumen kohesi sosial untuk menciptakan persatuan di dalam masyarakat,” ujar Anis Matta, dikutip Holopis.com, Kamis (15/1).
Ia menjelaskan bahwa upaya menciptakan persatuan sosial tidak bisa dilepaskan dari bagaimana kesejahteraan dikelola secara adil. Filantropi, menurut Anis, berperan penting dalam memastikan seluruh lapisan masyarakat tetap merasa dilibatkan dalam pembangunan.
“Menciptakan persatuan di dalam masyarakat itu, yang kita lakukan adalah membuat orang-orang yang kaya nyaman menikmati hartanya, sekaligus juga membuat masyarakat prasejahtera tetap merasa mempunyai harapan hidup yang lebih baik,” lanjutnya.
Dalam paparannya, Anis juga menyinggung struktur ekonomi Indonesia yang menunjukkan keterbatasan kapasitas negara. Ia memaparkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara berada di kisaran Rp3.600 hingga Rp3.700 triliun atau sekitar 200 miliar dolar AS, sementara Produk Domestik Bruto Indonesia telah mencapai sekitar 1,5 triliun dolar AS.
Perbandingan tersebut, kata Anis, menunjukkan bahwa sebagian besar produktivitas nasional digerakkan oleh pasar. Ia mengakui pasar sebagai organisasi yang paling efektif dan efisien karena berorientasi pada keuntungan. Namun, dominasi pasar tanpa penyeimbang berpotensi memicu ketimpangan sosial.
Karena itu, Anis menilai filantropi memiliki posisi penting sebagai kekuatan sosial yang mampu menjembatani kebutuhan masyarakat prasejahtera, sekaligus menjaga stabilitas dan persatuan di tengah dinamika ekonomi nasional.


