Psikolog Ingatkan Bahaya Child Grooming yang Sering Tersembunyi

27 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Istilah child grooming kembali ramai dibahas publik seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kasus kekerasan pada anak. Aktris Aurelie Moeremans yang baru saja merilis buku Broken Strings, di mana ia mengaku menjadi korban grooming membuat topik itu semakin luas dikulik.

Psikolog Klinis Sri Mulyani Nasution menjelaskan bahwa grooming bukan sekadar pendekatan atau rayuan, melainkan bagian dari pola kekerasan yang sistematis dan berbahaya.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Grooming merupakan istilah populer yang sering digunakan akhir-akhir ini. Grooming sebenarnya sama dengan perilaku abusive atau kekerasan,” ujar Sri Mulyani, dikutip Holopis.com, Kamis (15/1).

Ia menjelaskan bahwa dalam praktik grooming terjadi manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa atau pihak yang memiliki kuasa untuk membangun kedekatan, kepercayaan, dan ketergantungan pada anak.

- Advertisement -

Menurut Sri Mulyani, tujuan akhir dari proses tersebut adalah eksploitasi. Bentuknya tidak selalu seksual, tetapi bisa juga emosional, ideologis, hingga ekonomi. Anak dibuat merasa aman, dipahami, bahkan “dipilih”, sebelum akhirnya berada dalam posisi rentan.

Pelaku grooming, lanjut Sri Mulyani, kerap tampil dengan citra yang menipu.

“Pelaku biasanya hadir sebagai sosok yang memberi perhatian, perlindungan, mentor yang peduli, atau figur yang merasa paling mengerti korban,” jelasnya.

Tahap awal ini sering disebut sebagai tahap rayuan, yang menjadi pintu masuk sebelum terjadinya pelecehan. Ia menegaskan bahwa grooming dipahami sebagai metode yang digunakan pelaku kekerasan terhadap anak untuk mendapatkan akses, sekaligus mempersiapkan calon korban agar patuh dan tidak melawan.

Sri Mulyani Nasution Holopis.com
Psikolog Klinis, Sri Mulyani Nasution Holopis.com. [Foto: Holopis.com/BI]

Meski kerap dibahas, Sri Mulyani menyebut bahwa secara ilmiah, konsep grooming masih terus dikaji. Ia merujuk pada artikel jurnal Child Sexual Abuse berjudul The construct of grooming in child sexual abuse: conceptual and measurement issues, yang menyebutkan belum adanya konsensus ilmiah tunggal mengenai definisi dan proses grooming.

Namun, secara umum, proses grooming tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan bertahap yang saling berkaitan.

1. Targeting

Pelaku mulai dengan memilih anak yang terlihat membutuhkan perhatian, validasi, atau perlindungan emosional.

2. Building Trust

Kepercayaan dibangun melalui hadiah, pujian berlebihan, berbagi rahasia, atau menjadikan diri sebagai ‘orang spesial’ bagi korban.

3. Isolation

Pelaku secara perlahan menjauhkan anak dari orang tua atau lingkungan terdekat, sering kali dengan narasi manipulatif seperti, “Mereka tidak akan mengerti kamu seperti aku.”

4. Boundary Testing

Batas mulai dilanggar secara bertahap, misalnya melalui sentuhan kecil, lelucon, atau pembicaraan yang semakin intim.

5. Normalization dan Control

Korban dibuat merasa bahwa perilaku tersebut wajar, harus dirahasiakan, atau bahkan menjadi tanggung jawabnya sendiri.

Sri Mulyani menekankan pentingnya kewaspadaan orang tua dan lingkungan sekitar terhadap perubahan perilaku anak. Ia mengingatkan bahwa grooming kerap tidak disadari karena berlangsung halus dan terselubung.

Kesadaran, komunikasi terbuka, serta pemahaman tentang batas aman menjadi kunci agar anak tidak terjebak dalam pola manipulasi yang merusak secara psikologis dan emosional.

- Advertisement -
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
27 Shares
💬 Memuat kolom komentar Facebook...
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru

holopis