HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah rencana untuk mengeksekusi hukuman gantung pendemo yang memicu kerusuhan di negara itu. Araghchi juga mengklaim kondisi di Iran sudah mulai berangsur pulih.
“Tidak ada hukuman gantung, hari ini atau besok. Saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin tentang itu. Tidak ada rencana untuk hukuman gantung sama sekali,” kata Araghchi kepada stasiun televisi Fox News yang dikutip dari Anadolu, pada Kamis, (15/1/2026).
Araghchi mengklaim kondisi di Iran sudah tenang dan tengah dilakukan pemulihan. Kata dia, pemerintah Iran sudah dalam mengendalikan kondisi secara penuh.
Dia menyinggung Iran saat ini seperti menghadapkan operasi terorisme besar-besaran sebagai kelanjutan dari perang 12 hari yang ‘dipaksakan’ oleh Israel dan Amerika.
“Kami berada di tengah perang, dan sekarang setelah tiga hari operasi teroris, sekarang ada seruan,” jelas Araghchi.
Para pejabat Iran sebelumnya menuduh AS dan Israel mendukung ‘kerusuhan’ dan ‘terorisme’ di tengah gejolak demo berdarah.
Araghchi pun menolak laporan soal lebih dari 12 ribu kematian selama protes. Menurut dia, klaim itu tak berdasar dan bagian dari kampanye disinformasi. Ia mengklaim jumlah korban jiwa berada di angka “ratusan.”
Pun, saat ditanya banyak pendemo yang tewas, Araghchi mengatakan angka pastinya akan diumumkan segera. Dia bilang mungkin segera bakal diumumkan pemerintah Iran.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman bahwa Washington akan mengambil tindakan yang sangat keras jika otoritas Iran akan melakukan eksekusi terhadap pendemo.
Trump dan pejabat AS lainnya juga bermanuver dengan meningkatkan retorika terhadap Iran di tengah gejolak yang melanda negara Tanah Persia itu. Kondisi di Iran bergejolak sejak akhir Desember 2025 yang berdampak ambruknya kondisi ekonomi.
Pihak berwenang sejauh ini belum merilis angka resmi tentang korban jiwa atau tahanan. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), sebuah kelompok yang berbasis di AS, memperkirakan bahwa setidaknya 2.500 orang telah tewas.
Data 2.500 orang tewas itu termasuk demonstran dan personel keamanan, dengan lebih dari 1.100 orang terluka.
Dari data HRANA, kelompok itu juga menyampaikan sudah lebih dari 18.000 orang sudah ditahan. Meskipun angka-angka itu belum diverifikasi secara independen dan berbeda dari perkiraan lainnya.


